Berlian Heksagonal yang Diperkirakan Berasal dari Planet Lain Ditemukan di Afrika

- Rabu, 14 September 2022 12:05 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/berita/dir092022/_2200_Berlian-Heksagonal-yang-Diperkirakan-Berasal-dari-Planet-Lain-Ditemukan-di-Afrika.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Berlian heksagonal di meteorit yang ditemukan di Afrika dilihat menggunakan mikroskop elektron. (Alan Salek/RMIT)

(Pesisirnews.com) - Berlian heksagonal ditemukan di barat laut Afrika yang diperkirakan mungkin berasal dari planet kerdil kuno. Berlian heksagonal misterius ini lebih keras daripada berlian Bumi karena tidak terbentuk secara alami di Bumi.

“Sungguh menarik karena ada beberapa orang di lapangan yang meragukan apakah materi ini benar-benar ada,” kata Alan Salek dari RMIT University di Melbourne, Australia, yang merupakan bagian dari tim yang menemukannya seperti dilansir dari newscientist.com, Rabu.

Berlian heksagonal, seperti berlian biasa, terbuat dari karbon, tetapi atomnya tersusun dalam struktur heksagonal, bukan kubik.

Berlian ini juga dikenal sebagai lonsdaleite, pertama kali dilaporkan dalam meteorit di AS dan India pada 1960-an. Namun, kristal yang ditemukan sebelumnya sangat kecil, hanya berukuran nanometer sehingga sulit untuk memastikan apakah itu benar-benar berlian heksagonal.

Untuk berburu kristal yang lebih besar, Salek dan rekan-rekannya menggunakan mikroskop elektron yang kuat untuk mengintip 18 sampel meteorit. Satu dari Australia dan sisanya dari Afrika barat laut.

Mereka menemukan berlian heksagonal di empat meteorit Afrika, dengan beberapa kristal berukuran hingga satu mikrometer - sekitar 1000 kali lebih besar dari penemuan sebelumnya. Ini memungkinkan tim untuk mengkonfirmasi struktur heksagonal yang tidak biasa.

"Ini adalah penemuan penting karena sekarang kita memiliki kristal yang lebih besar, kita bisa mendapatkan ide yang lebih baik tentang bagaimana mereka terbentuk dan mungkin meniru proses itu di lab," kata Salek.

Berdasarkan komposisi kimia meteorit yang membawa mereka ke Bumi, berlian heksagonal tampaknya telah terbentuk di dalam planet kerdil, kata Andy Tomkins dari Monash University di Melbourne, yang memimpin penelitian.

[br]

Analisis tim menunjukkan kristal diciptakan oleh reaksi antara grafit - yang terbuat dari atom karbon berlapis lembaran dan cairan superkritis hidrogen, metana, oksigen dan bahan kimia belerang yang mungkin terbentuk ketika sebuah asteroid menabrak planet kerdil dan pecah menjadi fragmen yang akhirnya jatuh ke Bumi.

“Ketika planet pecah, itu seperti membuka tutup botol Coke - ia melepaskan tekanan dan penurunan tekanan yang dikombinasikan dengan suhu tinggi menyebabkan pelepasan cairan superkritis ini,” kata Tomkins.

Ini mirip dengan proses di mana berlian biasa dibuat di laboratorium, dengan memanaskan grafit dengan gas seperti hidrogen dan metana, menunjukkan bahwa beberapa penyesuaian dapat menghasilkan lonsdaleite sebagai gantinya.

Berlian heksagonal diperkirakan sekitar 60 persen lebih keras daripada berlian biasa berdasarkan strukturnya, dan kekerasan ekstra ini dapat diaplikasikan pada industri yang penting jika dapat dibuat secara sintetis.

“Berlian ini berpotensi digunakan untuk membuat mata gergaji ultra-keras atau bagian mesin lainnya,” kata Salek. (PNC)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Tekno

Pengusaha Asia Membeli Berlian Merah Muda Fortune Seharga Rp 445,7 M

Tekno

Ilmuwan Mengamati Sebuah Planet Raksasa yang Masih dalam Proses Pembentukan

Tekno

Usai Pemeriksaan Di Mapolda Riau, Bupati Kuansing Andi Putra Dibawa Penyidik KPK Ke Jakarta

Tekno

Colin Powell, Keturunan Afrika-Amerika Pertama yang Menjabat Menlu AS Meninggal Dunia

Tekno

Elon Musk Berambisi ‘Menjajah’ Mars, Ingin agar Umat Manusia Menjadi 'Spesies Multiplanet'

Tekno

Ilmuwan Kembangkan Bioteknologi untuk Mendukung Kehidupan Manusia di Planet Mars