MERANTI, PESISIRNEWS.COM - Meski sempat menghilang sekitar 30 tahun, masyarakat Selatpanjang, Kepulauan Meranti, kembali menggelar ritual Ghatib Zaman atau lebih dikenal dengan istilah "Bele Kampung", pada Jumat (16/10) malam.Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Forum Mahasiswa Pemuda Selatpanjang Timur (FMPST) yang melanjutkan studynya di Pekanbaru, bertujuan untuk berzikir atau mengingat Allah SWT sembari meningkatkan rasa kekompakan antara penduduk desa, serta mengajak kepada para generasi muda untuk mengenal adat istiadat Melayu."Tradisi ini adalah tradisi turun temurun yang harus dilestarikan, dan Insyaallah, ini akan menjadi kegiatan rutin," kata ketua FMPST, Andika, beberapa waktu lalu.Dikatakannya juga, kegiatan ini memang pernah digelar pada tahun 2014 lalu, namun tidak banyak yang mengikuti dikarenakan banyak masyarakat yang tidak mengetahui tradisi ini."Mudah-mudahan, ritual ghatib zaman yang digelar tahun ini mendapat antusias dari masyarakat," harapnya.Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Meranti, H Ridwan Hasan, menyebutkan kegiatan ini untuk mempertahankan aset budaya melayu sejak turun temurun."Ghatib bagaikan membersihkan diri, ritual yang dilakukan ini tak menyimpang dari ajaran Islam," ucapnya.Sementara itu, Ketua kampung yang juga merupakan keturunan Bathin Suir menerangkan, dzikir ini akan dimulai dengan berjalan kaki dari Masjid Al-Mujahidin Jalan Dorak, hingga berakhir di Hilir Sungai Jelutung Jalan Lingkar Dorak yang berjarak hampir 8 KM.Sampai di Sungai Jelutung, kata Sya'ari, rombongan akan berhenti dan membacakan doa, memohon kepada Allah SWT agar penduduk kampung dijauhkan dari segala marabahaya dan senantiasa diberikan rahmat oleh yang Maha Kuasa."Ketika kegiatan ini berlangsung, seluruh masyarakat yang ikut harus melantunkan dzikir dan tidak membicarakan hal yang bersifat duniawi," terangnya mengakhiri.(Adi)