Permainan Tradisional Yang Terancam Punah

Jelang Ramadhan, Bambu Mulai Diincar Anak Meranti

- Selasa, 16 Juni 2015 14:55 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir062015/pesisirnews_Jelang-Ramadhan--Bambu-Mulai-Diincar-Anak-Meranti.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Meriam bambu (foto: net)

PESISIRNEWS.COM, SELATPANJANG - Permainan tradisional Meriam Bambu atau disebut juga Bedil Bambu/Meriam Buluh merupakan permainan anak melayu yang biasanya dimainkan pada bulan Suci Ramadhan. Bulan Suci yang hanya tinggal beberapa hari lagi, sejumlah anak di Kepulauan Meranti, terutama yang tinggal di daerah perdesaan mulai mengincar keberadaan bambu (buluh) sebagai permainan tradisional itu. 

Walaupun ini merupakan permainan yang cukup berbahaya bagi anak-anak, apabila tidak berhati-hati dalam memainkannya, semburan api dapat mengenai wajah si pemain. Namun, itu tidak dihiraukan oleh penggemarnya karena permainan ini hanya dinikmati sekali dalam setahun. 

"Kalau tak ada buluh, kita bikin meriamnya dari kaleng aja bang, soalnya buluh sangat sulit didapatkan sekarang ini," sebut Udin salah seorang warga Selatpanjang, Senin (15/6) kemarin. 

Dia juga mengatakan bahwa permainan tradisional ini sangat luar biasa keistimewaannya jika dibandingkan dengan permainan lainnya saat menjelang maupun di saat bulan ramadhan.

"Ya pasti beda lah main meriam dengan main mercun, kalau meriam ini tak pakai habis-habis kecuali pecah, tinggal cari minyak tanah diisi lalu dihidupkan, dan bunyinya pun memuaskan," ungkap Udin menjelaskan.

Untuk diketahui, Permainan tradisional Meiam Buluh ini terinspirasi dari senjata yang digunakan oleh Portugis ketika menguasai Nusantara pada abad ke- 6. Meriam ini terbuat dari bambu berukuran besar, kemudian dipotong 1,5 meter. Kemudian, pada bambu tersebut dibuat lobang kecil berdiameter 5 cm, lantas dari lobang tersebut dimasukkan minyak tanah dan kain sebagai sumbu. Selanjutnya memanaskan meriam dengan memberikan api yang terus ditiup sampai mengeluarkan asap, setelah ini barulah ditembak. 

Sementara itu, Kepala Desa Insit, Jumir menghimbau kepada warganya agar tidak menggunakan permainan yang dianggap berbahaya tersebut, "Selain berbahaya permainan itu juga sangat mengganggu aktivitas masyarakat saat menjalani ibadah terawih di bulan suci ramadhan," sebutnya.

Lebih jauh, Jumir juga menghimbau kepada warga Desa Insit dan Kecamatan Tebingtinggi Barat pada umumnya agar tidak menggunakan permainan berbahaya tersebut.(Adi)


Tag:

Berita Terkait

Seni & Budaya

Pemkab Inhil Terbitkan SE Pajak Kesenian dan Hiburan, Dorong Optimalisasi PAD 2026

Seni & Budaya

Indikasi Gangguan Kesehatan dari Bau Berlebihan dan Perubahan Warna pada Urine

Seni & Budaya

Bupati Inhil HM. Wardan Apresiasi Pagelaran Malam Seni Budaya Banjar

Seni & Budaya

Laksamana TNI Yudo Margono Sosok Pemimpin Seniman dan Budayawan

Seni & Budaya

Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-197 Diisi Acara Pentas Seni Budaya yang Berlangsung Meriah

Seni & Budaya

Ferry Wawan Cahyono, S.Pi., M.Si ‘Nguri-uri’ Seni Budaya Wayang Kulit