Pesisirnews.com-Pada Pilpres 2019, Demokrat salah satu partai yang mendukung pencalonan Prabowo-Sandiaga. Namun hingga saat ini belum nampak partai berlambang mercy itu terjun mengkampanyekan pasangan tersebut
Beberapa pihak menilai Demokrat tak serius mendukung Prabowo-Sandi. Ditambah lagi, ada pernyataan-pernyataan dari pihak Demokrat yang bikin koalisi Prabowo-Sandi terusik. Berikut 'kode-kode' demokrat yang mengusik koalisi Prabowo-Sandi.
1. Demokrat Tak Bergantung Pencapresan Prabowo
SBY buka pembekalan calon legislator partai Demokrat. ?2018 Liputan6.com/Faizal Fanani
Untuk menaikkan suara partai pada Pemilu 2019, Demokrat tidak akan mengandalkan dari pencapresan Prabowo-Sandi. Demokrat mengklaim punya strategi sendiri untuk menaikkan suara partai.
"Tidak (tergantung efek ekor jas). Kami mempunyai strategi sendiri, kalau kita tergantung pada coattail effect berarti kita terlalu berharap. Hope is not strategy, berharap adalah bukan strategi," kata Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono.
Dia menegaskan, jika berharap dengan coattail effect saja, maka yang diuntungkan Partai Gerindra, bukan Partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono ini.
2. Partai Punya Capres yang Diuntungkan
SBY buka pembekalan calon legislator partai Demokrat. ?2018 Liputan6.com/Faizal Fanani
Salah satu pernyataan yang mengusik koalisi Prabowo-Sandi, saat Ketua Umum Partai Demokrat menyebut jika hanya partai yang punya capres diuntungkan pada Pemliu Serentak nanti. Di mana menurut SBY, capres yang diusung dapat menaikkan suara partai pengusung. Sementara partai-partai yang tak mengusung capres atau cawapres suaranya anjlok di pileg.
"Pemilu 2019 ini dilaksanakan secara serentak, pilpres bersamaan dengan pileg. Survei membuktikan saat ini partai politik yang punya capres sangat diuntungkan. Contohnya PDI-P dengan Pak Jokowi sebagai capres kader partai itu dan Gerindra dengan Pak Prabowo sebagai capres kader Gerindra," ujar SBY dalam pidato pembukaannya dalanm acara pembekalan caleg Demokrat di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta.
Merdeka.com