Sebelum Meninggal Begini Pesan Korban Tragedi Surabaya Membara

Haikal - Minggu, 11 November 2018 17:06 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir112018/pesisirnews_Sebelum-Meninggal-Begini-Pesan-Korban-Tragedi-Surabaya-Membara.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
SEDIH-Suasana di rumah duka Jalan Karang Tembok gang 6 nomor 7, Surabaya. FOTO:Aryo Mahendro/JawaPos.com

Pesisirnews.com-Polisi dan tim medis mencatat ada 3 korban tewas KRD Sidoarjo - Stasiun Pasar Turi di viaduk Jalan Tugu Pahlawan, (9/11). Salah satunya, Helmi Surya, 16, warga Karang Tembok Gang 6 nomor 7, Surabaya.

Masih ada beberapa pelayat di alamat tersebut. Tidak ada karangan bunga. Ayah Helmi, Achmad Harijanto, 69, memakai topi dan kacamata hitam. Dia berusaha tegar dengan kematian putra bungsunya. Terlihat jelas dari nada bicaranya yang agak terbata-bata karena kesedihan dan lelah saat mengiringi kepergian anaknya sejak kemarin malam.

Meski sedih, Achmad masih mampu tersenyum ramah sangat mengobrol dengan pelayat lain. Achmad lalu menceritakan kronologis kejadian beberapa saat sebelum Helmy tewas terlindas kereta api. Dia mengatakan, Helmi berangkat dari rumah pukul 17.30 WIB. Siswa SMPN 44 Surabaya tersebut lalu berangkat bersama empat orang tetangga sebayanya. Saat tiba di Jalan Tugu Pahlawan, kerumunan penonton Surabaya Membara sudah membludak.

Helmi, terpaksa menonton di belakang dekat viaduk bersama keempat orang temannya. Baru sejam menonton drama perang tersebut, keempat teman Helmi beranjak pulang. "Jarene, onok sing wetenge sakit lah (katanya ada yang perutnya sakit lah). Tapi saya nggak tahu," kata Achmad di rumah duka, Sabtu (10/11).

Tak lama, lanjut Achmad, putra bungsunya itu bertemu dengan kawan satu sekolahnya. Achmad menuturkan, kawan lama putranya itu yang mengajak Helmi naik dan menonton pertunjukan Surabaya Membara di viaduk.

"Saya nggak tahu kondisi kawannya itu. Tapi memang, anak saya itu pendiem. Tapi, nurutan (penurut)," kata Achmad singkat saat ditanya kondisi teman Helmi yang mengajak menonton di viaduk.

Sekitar pukul 19.30 WIB, KRD Sidoarjo - Stasiun Pasar Turi melintas dari arah Stasiun Wonokromo melewati viaduk. Penonton yang masih bergerombol diviaduk, panik. Mereka berusaha merapatkan diri ke tembok viaduk.

Karena berdesakan, lima orang pertama terjungkal dan jatuh ke bawah viaduk. Achmad menuturkan, kemungkinan, saat kepanikan itu terjadi, kaus yang dipakai Helmi, tersangkut di badan sisi samping kereta. Tak pelak, Helmi terjatuh ke kolong kereta dan tewas terlindas.

"Anak saya berangkat pakai kaos. Nah mungkin kecantol (tersangkut) terus jatuh. Tapi, waktu kejadian, saya belum tahu soal kecelakaan itu," kata Achmad. Namun, Achmad tidak langsung tahu musibah maut yang menimpa Helmi. Kecurigaannya bermula saat waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Dia penasaran kenapa anaknya belum pulang.

Achmad lalu berinisiatif ke lokasi acara untuk mencari anaknya. Sayang, suasana di lokasi kejadian sudah sepi. Achmad lalu pulang ke rumah. Sampai di rumah, beberapa tetangga Achmad memberi tahu pemberitaan tentang kecelakaan tersebut.

Beberapa tetangga menunjukkan sejumlah foto dan video korban yang sempat viral melalui pesan Whatsapp. Salah satu foto yang ditunjukkan tetangga, mengundang kecurigaan Achmad. Dia lalu berinisiatif mencari putranya ke RSUD dr. Soetomo. Awalnya, dia tidak mendapat kabar tentang keberadaan anaknya. Tak lama, seorang petugas media memberitahu jika ada jenazah Mr X yang ditangani di kamar jenazah.

Tanpa pikir panjang, Achmad meminta petugas tersebut mengantarnya melihat jenazah yang dimaksud. Akhirnya, Achmad mengenali wajah putra bungsunya kondisi jenazah yang hanya terpotong jadi dua di bagian pinggang.

"Dados kalih (jadi dua) mas. Kakinya di sebelah sana, badannya di sana (badan Helmi putus dan terpisah rel kereta)," kata Achmad sambil menunjukkan posisi jenazah Helmi yang terbelah jadi dua usai terlindas kereta api. Achmad mengingat pesan terakhir anaknya dua minggu lalu. Dia baru sadar jika pesan tersebut adalah firasat kepergian putra bungsunya. Dia menuturkan, Helmi pernah berpesan jika meninggal nanti, jangan ada yang menangisi.

"Dia ngomong sama Mbaknya (kakak perempuannya). Lek aku mati, ojok nangis yo. Dongakno aku ae. (Kalau saya meninggal, jangan ditangisi. Doakan saya saja). Terus di sekolah juga begitu. Dia ngomong sama gurunya kalau habis salat, banyak dzikir sama salawat. Padahal dia nggak pernah begitu," tutur Achmad menirukan pesan terakhir anaknya.

Sumber:indopos

Berita Terkait

Peristiwa

Bupati Herman Kukuhkan Paskibraka Inhil 2026, Tekankan Kekompakan dan Kesiapan

Peristiwa

Kapolda Riau Bawa Harapan ke Tepian Negeri, 3.600 Mangrove Bentengi Kuala Selat

Peristiwa

Satlantas Polres Inhil Gelar Strong Point Pagi, Pastikan Arus Lalu Lintas Tetap Lancar dan Kondusif

Peristiwa

Tim Gabungan Terus Lakukan Pemadaman Karhutla di Dua Lokasi di Inhil

Peristiwa

Kebakaran Rumah Terjadi di Jalan Tanjung Harapan Tembilahan, Api Berhasil Dikendalikan

Peristiwa

Kapolres Inhil Gelar Apel Pergeseran 150 Personel Menuju Kuala Selat dalam rangka Ekspedisi Merah Putih Presisi