Sebelum hilang Kontak ini Rupanya yang di Bicarakan Pilot Lion Air JT610 dengan Petugas ATC

Haikal - Kamis, 08 November 2018 21:59 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir112018/pesisirnews_Sebelum-hilang-Kontak-ini-Rupanya-yang-di-Bicarakan-Pilot-Lion-Air-JT610-dengan-Petugas-ATC.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
JAKARTA  - Flight Data Recorder (FDR) yang juga bagian penting black box Lion Air JT610 sudah ditemukan dan dianalisis.Cockpit Voice Recoder (CVR), memang belum ditemukan. 

Percakapan pilot dengan petugas ATC (Air Traffic Control), pada detik-detik menegangkan, sebelum pesawat Lion Air JT 610 hilang kontak.

Isi percakapan tersebut bisa ditranskripkan sebagai berikut.

Pilot Bhavye Suneja memberitahu kepada petugas ATC, bahwa ada masalah dengan kendali pesawat.

Diketahui bahwa pesawat mengudara dengan tidak stabil.

Merasakan ada keganjilan, pilot Bhavye Suneja dan kopilot Harvino, meminta kepada ATC untuk kembali ke Bandara Soekarno-Hatta pada menit ke sepuluh penerbangan.

Pesawat yang lepas landas pada pukul 06.20 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Pangkal Pinang tersebut, telah mengudara hingga ketinggian 27.000 kaki, tanpa masalah.

Tetapi kemudian kopilot Harvino meminta sejumlah posisi pesawat dipertahankan, karena ada masalah dengan kendali penerbangan.

Petugas ATC meminta Lion Air JT610, mempertahankan ketinggian 5.000 kaki.

Penerbangan pun dilakukan secara manual, karena masalah pada kendali penerbangan tersebut pada pukul 06.29 WIB.

ATC menyetujui permintaan Lion Air untuk kembali ke Bandara Soekarno-Hatta.

Dalam perjalanan balik ke Bandara Soekarno-Hatta, pilot tidak bisa memastikan ketinggian pesawat, karena semua petunjuk di kendali penerbangan sama.

Pilot pun ingin dipastikan, bahwa tidak ada penerbangan lain di ketinggian 3.000 kaki pada jalur ke Bandara Soekarno-Hatta.

Setelah meminta dipastikan tidak ada penerbangan di ketinggian 3.000 kaki, satu menit kemudian ATC kembali menghubungi Lion Air JT610, untuk menginformasikan kesiapan runway. Tetapi tidak ada balasan lagi.

Dan ketika itu, dipastikan Lion Air JT610 sudah menukik di laut Tanjung Karawang dengan kecepatan tinggi.

Penyebab lain dari permintaan return to base atau kembali ke bandara keberangkatan, masih diselidiki lebih lanjut sampai saat ini.

Black box adalah benda yang sangat penting, untuk mengungkap kejadian dalam penerbangan.

Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono mengatakan, tanpa black box akan sangat sulit membuktikan ada masalah.

Soerjanto juga penyampaikan, di dua penerbangan sebelum pesawat Lion Air JT610 mengudara, termasuk saat terbang ke Denpasar pun, juga sudah mengalami masalah.

Sampai saat ini pencarian CVR pun juga masih terus dilakukan.

Seperti diketahui, pada Senin (29/10/2018), pesawat Lion Air JT 610 dilaporkan jatuh di perairan Tanjung Karawang.

Puing-puing pesawat, ditemukan di kedalaman 32 meter di dasar laut. Bergeser 500 meter dari titik awal jatuhnya pesawat.

Basarnas dan tim gabungan, telah menerjunkan 151 regu penyelam handal untuk mencari bagian CVR. Bagian ini sangat vital untuk mengungkap apa yang terjadi di kokpit pesawat.di lansir dari rakyatku.

Berita Terkait

Peristiwa

Kapolda Riau Bawa Harapan ke Tepian Negeri, 3.600 Mangrove Bentengi Kuala Selat

Peristiwa

Satlantas Polres Inhil Gelar Strong Point Pagi, Pastikan Arus Lalu Lintas Tetap Lancar dan Kondusif

Peristiwa

Tim Gabungan Terus Lakukan Pemadaman Karhutla di Dua Lokasi di Inhil

Peristiwa

Kebakaran Rumah Terjadi di Jalan Tanjung Harapan Tembilahan, Api Berhasil Dikendalikan

Peristiwa

Kapolres Inhil Gelar Apel Pergeseran 150 Personel Menuju Kuala Selat dalam rangka Ekspedisi Merah Putih Presisi

Peristiwa

Kapolres Inhil Gelar Apel Pergeseran 150 Personel Menuju Kuala Selat dalam rangka Ekspedisi Merah Putih Presisi