Tiga orang guru wafat saat UKG ??

- Minggu, 15 Oktober 2017 00:47 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir102017/pesisirnews_Tiga-orang-guru-wafat-saat-UKG.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Pesisirnews.com,

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

(Ketua PGRI Kota Sukabumi)

Prof. Dr. K.H. HM Rasjidi mengatakan "Kita   lahir dari rahmat Allah, hidup mencari rahmat Allah dan kembali pada rahmat Allah." Setiap yang hidup akan merasakan mati dan kematian adalah rahasiah Illahi. Setiap yang lahir, hidup dan mati pada hakekatnya sudah Allah tentukan segalanya. Risiko hidup  setiap hamba adalah kematian.

Kita sebagai orang beriman ikhlas dan ridho atas segala ketentuan yang Allah gariskan. Namun, disisi lain sebagai manusia biasa dengan segala kebodohannya   wajar dan sangat manusiawi bila kita mendiskusikan asbab dari sesuatu atau bahkan wafatnya seseorang.  Menarik ditelaah penulis meninggalnya tiga orang guru terkait UKG.

Di Jakarta seorang guru bernama  Amir Syamsu saat mengikuti UKG  di SMAN 26 Jakarta jatuh pingsan. Padahal sebelumnya Ia dalam kondisi sehat. Setelah sekian waktu pingsan maka  Amir Syamsu menghembuskan nafasnya (Kompas.Com). Di Kabupaten Tana Toraja  seorang guru berusia sekitar 55 tahun bahkan sebelum UKG jatuh pingsan dan selanjutnya wafat (Kompasina.Com).

Pekan ini anggota PGRI Kota Sukabumi sosok  guru yang sangat rajin dan memiliki idealisme luar biasa wafat saat  baru menyelesaikan 5 soal UKG.  Beliau bernama Ibu Eha, seorang guru  SD yang sangat dipercaya dan menjadi andalan kepala sekolah  di tempat Ia bekerja. Ia adalah sosok guru yang tidak pernah bolos dan tak pernah  males dalam bekerja. Terkadang Ia lebih mengutamakan kepentingan melayani anak didik dibanding kepentingan pribadi dan keluarganya.

Penulis berbicara dengan  Ibu Erni kepala sekolah dimana Ibu Eha bekerja.  Sangat disayangkan guru yang Ia andalkan harus menghembuskan nafas "karena" UKG. Asbab  UKG Ibu Eha pingsan saat baru menjawab beberapa soal UKG. Sungguh  UKG sepertinya telah membuat Ibu Eha sakit mendadak di depan layar monitor dan terkulai lemas, pingsan, koma di rumah sakit dan selanjutnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Ada yang harus kita yakini akan takdir Illahi yang menimpa seseorang termasuk wafatnya Ibu Eha. Namun, ada juga yang harus kita kritisi tentang kebijakan pemerintah yang telah melahirkan  para guru stress, tertekan karena harus mencapai kelulusan 80.  Lebih membuat para guru "menderita" adalah dipersepsi adanya hubungan nilai UKG dengan hak mendapatkan TPG. Ini  dirasakan sangat memperdaya  dan merendahkan nilai dedikasi sebagai seorang guru apalagi yang berada diperbatasan dan daerah terpencil. 

Sangat tidak masuk akal UKG yang hanya mengukur intelektualitas hapalan dan teoritik menjadi penentu berhak dan tidaknya memperoleh TPG. Padahal sebagian besar guru nilai dedikasi, kompetensi di ruang kelas,  prestasi diorganisasi profesinya, prestasi di masyarakat, prestasi di sekolahnya dan beberapa talenta positif lainnya tak masuk nilai dalam UKG. Mengukur "kelayakan" guru dari hasil UKG adalah sebuah vonis tidak adil menurut para guru.

Alm. Ketua Umum PB PGRI Dr. Sulistiyo mengatakan "Pada  tahun 2012  di Semarang ada guru  yang disenangi murid dan juga masyarakat, tapi ketika uji kompetensi nilainya sangat rendah dan berimbas pada kepercayaan masyarakat pada guru itu," Ini sebuah realitas problematika efektifitas UKG. Benarkah guru yang lulus UKG adalah guru terbaik bagi peserta didiknya? Benarkah guru yang tak lulus UKG adalah guru yang bermasalah?

Dari beberapa ilustrasi di atas setidaknya kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa UKG dengan nilai kelulusan 80 adalah memberatkan. UKG bila dikaitkan dengan hak mendapatkan TPG adalah tidak rasional. UKG bagi guru-guru pedalaman adalah pemaksaan. UKG bagi guru-guru yang sebentar lagi pensiun dan tak akrab dengan dengan dunia IT adalah pelecehan. Terutama bila dikaitkan dengan "hak" TPG bagi guru yang sudah puluhan tahun mengabdi. 

Sekian protes guru terhadap kehadiran UKG adalah hal yang  wajar mengingat nilai kelulusan meloncat menjadi 80. Idealnya UKG hanya menentukan atau mengukur pemetaan kompetensi "hapalan" guru. UKG realitasnya menyedot waktu KBM guru yang utama. UKG memakan biaya milyaran. UKG menimbulkan stress kolektif para guru. Efektifkah UKG? Semoga tulisan ini tidak termasuk ungkapan atau opini yang cengeng dan malas.

Fakta tiga orang guru meninggal terkait UKG langsung atau tidak adalah sebuah rekaman "medik" imbas regulasi pendidikan. Guru adalah komunitas yang harus diasah kompetensi, motivasi, metode dan ghiroh keguruannya. Bukan hanya diuji hapalannya berkaitan kompetensi profesionalnya. Padahal bagaimana seorang guru di ruang kelas terkait kompetensi pedagogik jauh lebih penting. 

Menyaksikan dengan kepala dan mata sendiri saat audiensi di Kemdikbud Ketua Umum PB PGRI Dr Unifah Rosyidi begitu "keras dan tegas" memperjuangkan nasib guru berkaitan nilai UKG yang irasional. Ia menghendaki para guru Indonesia diberi layanan terbaik, kesejahteraan terbaik dan jauhkan dari hal-hal yang memberatkan karena akan berimbas pada kinerja dan layanan utama pada peserta didik sebagai generasi penerus kita.

 Kencanawat: *Puisi seorang siswa untuk gurunya*

 Derita Guru Ku

Hari ini latihan soal,Nak

Soalnya lima buah

Pilihan Ganda

Jangan ribut

Ibu di perpustakaan

Menghitung Angka Kredit

Sudah delapan tahun

Ibu tidak naik pangkat

Itu ucapan Bu Husnul

 guru matematika ku

Pada jam pertama

Hari ini kalian baca cerpen,Nak

Kalian ke perpustakaan

Jangan ribut 

Jangan berulah

Bapak di ruang komputer

Ada tugas Daring

Yang bikin kepala pusing

Itu ucapan Pak Rahmat

Guru bahasa Indonesia ku

Pada jam ketiga

Hari ini buka buku kalian,Nak

kerjakan halaman empat puluh  Ibu di ruang guru

Besok harus UKG

Doakan agar Ibu lulus

Itu ucapan Bu Aijah

Guru IPS ku

Pada jam ke enam

Saat Istirahat,

Bu Sifa Guru Agama ku

Berpesan agar kami mengerjakan soal latihan di bab 3 setelah selesai jamaah dzuhur nanti,

Lalu Terburu-buru ke parkiran...

Katanya mau ngurus SIMPATIKA di kemenag sebelum admin keluar kota...

Guru Ku....

Kami butuh belajar

butuh cerita hidup Mu

Kisah nyata Mu

Perjuangan Mu

Agar kelak kami bisa melewatinya

Tanpa cela

Pak Menteri

Beri kenyamanan 

Beri penghargaan 

Untuk guru kami

Jangan buat mereka susah

Hentikan 

angka kredit

Daring

UKG

Kami jamin

Guru kami guru profesional

Special for : my teacher's

( *Sharing Guru & Pesdik* )

Tlg viralkan kesemua Group agar sampai ke Pembuat Kebijakan krn mereka bisa membuat *Kebijakan juga atas peran dr guru-guru yg hebaats*rilis.

Berita Terkait

Peristiwa

Kapolda Riau Bawa Harapan ke Tepian Negeri, 3.600 Mangrove Bentengi Kuala Selat

Peristiwa

Satlantas Polres Inhil Gelar Strong Point Pagi, Pastikan Arus Lalu Lintas Tetap Lancar dan Kondusif

Peristiwa

Tim Gabungan Terus Lakukan Pemadaman Karhutla di Dua Lokasi di Inhil

Peristiwa

Kebakaran Rumah Terjadi di Jalan Tanjung Harapan Tembilahan, Api Berhasil Dikendalikan

Peristiwa

Kapolres Inhil Gelar Apel Pergeseran 150 Personel Menuju Kuala Selat dalam rangka Ekspedisi Merah Putih Presisi

Peristiwa

Kapolres Inhil Gelar Apel Pergeseran 150 Personel Menuju Kuala Selat dalam rangka Ekspedisi Merah Putih Presisi