Guru ini Berhasil Menaklukan Gembong Narkoba

metihera wati
- Rabu, 03 Desember 2014 16:54 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir122014/1417601833images.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
ilustrasi
Kenakalan remaja saat ini sudah sangat luar biasa. Para remaja banyak yang terlibat kasus narkoba. Pemulihan pecandu narkoba tidaklah mudah. Namun dengan ketulusan seorang guru berhasil menaklukan seorang murid pecandu sekaligus pengedar narkoba. Bagaimana kisah unik yang mengharu biru itu? Mari kita simak kisah berikut ini. “Hati-hati mengajar di kelas 2C, bisa-bisa dikerjainhabis-habisan.” Kata Wanti dengan nada geram. Mulutnya manyun menandakan kesalyang luar biasa.

            “Masatadi aku ngomong, anak badung itu tidak mau sama sekali melihatku. Alih-alihmemperhatikan malah sibuk cengengesan. Ihhh… pingin ngejambak rambutnya”lanjutnya lagi sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.

            “Berapaorang yang nakal wan?” tanyaku, sambil duduk di samping Wanti yang masih emosi.

            “Yangnakal banget satu orang. Tapi dia suka mempengaruhi teman-temannya untuk ikutberbuat onar. Ya Ampun, aku sampai bingung mau ngomong apa tadi. Semua rencanapelajaran hari ini tidak tersampaikan.” Lanjut Wanti.

            “Sabarya Wan, semoga ke depannya mereka lebih bisa dikendalikan. Anggap saja iniujian berharga agar kita lebih memperbaiki persiapan mengajar.” Wanti hanyamendengus pelan, mungkin dia sedang berusaha mengendalikan emosinya.

            Sebagaimahasiswa yang sedang mengikuti praktik mengajar, apa yang dialami sama Wantisangat tidak mengenakan. Kami yang sedang belajar untuk menjadi guru,memerlukan kondisi yang kondusif. Jika semua kelas seperti itu, bisa-bisa kamigagal dan harus mengulang praktik mengajar tahun depan.

            Dapatdikatakan kami kurang beruntung, karena mendapat sekolah swasta. Mayoritasmurid-murid di sekolah ini memiliki nilai akhir yang kecil, sehingga tidakmasuk sekolah negeri. Siswa yang memiliki minat belajar sungguh-sungguh, bisadihitung dengan jari. Selebihnya, berangkat sekolah hanya main-main saja, adajuga hanya karena takut sama orang tua, bahkan ada juga yang datang ke sekolahtanpa tahu tujuannya mau apa.

            “Janganmacam-macam sama anak sini, mereka akrab dengan preman. Jadi kalau diusikpreman akan ikut campur” begitu peringatan dari penjaga sekolah pada saat kamibaru datang.

            “Cariaman sajalah, jangan macam-macam. Guru di sini juga sudah pada tahu” lanjutnya,dengan pandangan tajam.

            Akumembatin, mendengar penjelasan dari penjaga sekolah tersebut. Hatiku terasadiiris. Bukankah sekolah adalah tempat untuk mendidik anak, agar memilikiperilaku yang baik, punya masa depan yang cerah. Teori belajar mengajar yangsudah kudapat bersesakan di kepala. Saatnya kini untuk menerapkan teori-teoriitu, tapi harus berhadapan dengan kondisi seperti ini.

            “Duluada guru yang sok tegas, anak yang nakal dihukum. Apa yang terjadi? Pulang darisekolah, di tempat yang sepi guru itu disergap, nyaris nyawanya tidaktertolong.” Bapak penjaga sekolah melanjutkan ceritanya.

            Spontan kami bergidik mendengarnya.                                                                            

            Sesamateman seperjuangan, guru-guru PPL sepakat untuk mencari jalan aman. Bukannyakami tidak mau mendidik siswa dengan sebaik mungkin. Namun posisi kami yangmasih belajar dan melaksanakan tugas akhir, menuntut kami untuk tidak terlaluterlibat dalam menghadapi kenakalan siswa. Kami hanya berusaha untuk menyelesaikantugas mengajar dengan baik dan mendapat nilai yang baik.

            Kamiberusaha untuk menjadi sahabat bagi semua siswa, sehingga mereka tidak canggungdengan kami. Cara ini cukup efektif untuk mengontrol emosi mereka. Walaupuntidak semua siswa bisa akrab dengan kami, tapi lumayan mereka tidak mengganggu ketika kami mengajar di kelas.Siswa yang memang sangat nakal sangat sulit kami dekati. Salah satunya Rumanto‘penguasa’ 2-C. Dia senantiasa memandang sinis pada kami.

 Berdasarkan pengakuan beberapa siswa, Rumantomerupakan salah satu pengedar narkoba di sekolah itu. Di sekolah, dialahgembongnya dan memiliki anak buah. Dia menjalin kerjasama dengan penjagasekolah juga. Langganan Rumanto banyak juga di sekolah. Tak heran jika Rumantobagaikan ‘raja kecil’ di sekolah, tidak ada yang berani mengusiknya, termasukpara guru.

Teman-teman perempuanku, sudahtakluk di tangannya. Mereka memilih untuk tidak mengajar di kelas 2-C. Ada jugayang nekad mengajar di kelas 2-C, tapi hanya sampai separuh jalan. Diamenghambur keluar kelas sambil menangis. Penyebabnya, adalah Rumanto yangberbuat usil. Aku sendiri, tertantang untuk menaklukannya. Aku memutar otak,mencari jalan untuk menaklukan sang gembong.

            Tanpaterasa, hanya tinggal tiga minggu lagi, aku harus mengajar di kelas 2-C. Mautidak mau harus berhadapan dengan sang gembong. Selain mempersiapkan materisebaik mungkin, aku pun menyisihkan waktu untuk membaca buku-buku psikologi.Aku pikir, pasti ada cara untuk menaklukan anak nakal itu, dengan cara yangbaik tentunya. Diam-diam, aku mengamati tingkah polah Rumanto.

            “Tuhitu orangnya, yang bibirnya monyong dan matanya belo.” Wanti berbisik ditelingaku, ketika Rumanto berlalu di hadapan kami.

            Gayanyasangat khas, dadanya dibusungkan, dagunya diangkat. Persis kaya koboy jahatyang ada di film-film he…he..

            Tibalahwaktunya, aku mengajar di kelas 2-C. Kelas yang paling mengerikan. Sebelummasuk kelas aku berdoa lama sekali. Aku memohon pertolongan dan kekuatan dariAllah swt.. Aku yakin Allah Maha Pemilik jiwa makhluk-makhluk-Nya, termasukRumanto. Aku memohon agar  hati Rumantodilembutkan dan ia diberi hidayah.

            Setenangmungkin aku masuk ke ruang kelas. Selanjutnya aku mengedarkan pandangan, selainuntuk menguasai audiens, juga untuk mengetahui keberadaan Rumanto. Dia duduk dibangku kedua, sejajar dengan meja guru.

            Pertemuanpertama di kelas 2-C, diawali dengan perkenalan. Setelah memperkenalkan diri,aku mulai membaca absen siswa. Setiap nama aku beri makna bebas, makna yangbaik tentunya. Gelak tawa sesekali kali memenuhi ruangan kelas. Mereka sangatmenikmati caraku berkenalan.

            Plok…Plak…Plok…

            Sanggembong mulai beraksi. Persis seperti kata teman-temanku. Dia memulai aksinyadengan menghentak-hentakan kakinya, kemudian melempar-lempar pinsil atau apasaja yang ada di tangannya. Aku berusaha menenangkan diri, agar tidakterpancing emosi.

            “Selanjutnya…wah namanya unik sekali. Pasti orangnya keren. RUMANTO, mana yang namanyaRumanto?” teriakku, sambil mengedarkan pandangan, pura-pura mencarinya.

            Rumantomengacungkan tangannya dengan sumringah. Tampaknya, dia senang sekali mendapatpujian dariku.

            “Rumanto,artinya pemimpin lelaki yang membawa pembaharuan. Wah hebat ya… Rumanto inicalon pemimpin hebat…”

            SenyumRumanto semakin lebar. Tangannya membetulkan krah bajunya, sambil mesem-mesem.

            Uuuhhhh…teman-temannya meneriaki Rumanto. Diantaranya ada juga yang mencibir dan buangmuka.

            Rumantotidak memperdulikan teriakan temannya, ia masih kelihatan bahagia sekalimendapat pujian dan sanjungan.

            “Maaf…boleh minta tolong? Siapa yang mau menghapus papan tulis?” pintaku setelahselesai mengabsen.

            Rumantolangsung berdiri dan berjalan ke arah papan tulis.

            “TumbenTo, Lu rajin” ledek temannya

            “Calonpemimpin memang harus rajin dan bertanggung jawab” kataku sambil tersenyum.

            Ehem…ehem… ledek temannya lagi.

            “Terimakasihya Rumanto” dengan senyumnya yang manis Rumanto menganggukkan kepalanya.

            Selanjutnya,proses belajar berjalan dengan tenang dan lancar. Rumanto mengikuti pelajarandengan khusyu, bahkan dia pun menulis. Sengaja aku mendekatinya, tampaktulisannya rapih dan bukunya pun sangat rapih. Dia menulis di halaman pertama,berarti baru hari ini dia mau menulis.

            “Tulisannyabagus, Rumanto berbakat jadi penulis juga ya” kataku. Rumanto tersenyum lebihmanis lagi.

            Akusangat bersyukur, bisa menemukan cara untuk ‘menjinakkan’ Rumanto. Aku rasa,setiap orang ingin mendapat penghargaan dari orang lain. Bisa jadi, anak-anakmenjadi nakal karena kurang dihargai. Bahkan, label sebagai anak nakal sudahterlanjur menempel dalam dirinya. Sehingga tidak ada keinginan untuk berubahmenjadi baik.

            Rumanto,menjadi bukti. Anak yang selama ini bagaikan monster menakutkan bagi guru-guruPPL, bisa bersikap baik. Bahkan bisa diajak kerjasama. Aku semakin bersemangatuntuk terus mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik tanpa harus mengibarkanbendera perang. Sentuhlah hatinya dengan hati, itu prinsipku.

            Tanpaterasa, dua jam pelajaran pun berakhir. Aku keluar kelas dengan senyum bahagia.Teman-temanku sudah menunggu di ruang guru. Rupanya mereka menantikan kabar apayang aku bawa. Mereka mengira aku akan terisak-isak keluar kelas.

            “Bagaimana?Lancar? Si Rumanto berulah tidak?” berondong Wanti, begitu aku sampai.

            “Alhamdulillahlancar…”

“Si Rumanto tidak ada?” tanya Wantipenasaran.

            “Ada…”

            Wantimengernyitkan dahinya, begitu pun yang lainnya.

            “Terus?”tanya Aldi.

            “Terusapanya?” aku balik bertanya.

            “Terusbagaimana ceritanya, kamu bisa keluar kelas dengan tersenyum tidak seperti yanglain.”

            “Oh…ya biasa aja, aku mengajar seperti biasa”

            “Gimanacaranya dia bisa jinak?” tanya Wanti dengan penasaran level 10.

            Akuakhirnya bercerita pengalaman mengajar di kelas 2-C. Semua mendengarkan denganpenuh takjub.

            “Jadikesimpulannya, selalu ada jalan keluar dan anak nakal bisa jadi anak baik, asaldiperlakukan dengan baik” pungkasku, diaminkan yang lain.

            Selanjutnya,aku bisa mengajar di kelas 2-C dengan lancar. Rumanto menunjukan sikap yangsangat baik, selama aku di kelas. Dia kelihatan sangat antusias dalam belajar.Ketika diadakan diskusi, Rumanto terlibat aktif. Dia tidak menghiraukan sikapbeberapa temannya yang terus meledek. Mungkin bagi teman-temannya, sangatjanggal melihat Rumanto aktif belajar dan diskusi.

            Tibalahsaatnya, diadakan ulangan harian. Semua mengikuti dengan baik, tidak adaseorang pun yang berusaha mencontek atau kerjasama. Termasuk Rumanto. Hatikugeli, melihat mimiknya yang super serius.

            Tanpakuduga, Rumanto mendapat nilai tertinggi. Di balik kertas ulangannya, kutulissebait puisi

            Nak…

            Jalanmu masih sangat panjang

            Songsong masa depanmu

            Tegapkan langkahmu

            Jangan sia-siakan masa mudamu

            Pastikan masa depan ada dalamgenggammu

            Raih cita dan impian

            Buktikan pada dunia

            Bahwa kamu ada

            Rumantobersorak gembira menerima kertas ulangannya. Selama perjalanannya sebagaipelajar, baru kali ini ia mendapat nilai tertinggi. Kesempatan emas ini tidakaku sia-siakan. Kusampaikan bahwa ketika kita berusaha keras, pasti akanmendapatkan hasil yang memuaskan.

            KeberhasilanRumanto menjadi inspirasi bagi teman-temannya. Mereka tampak belajar semakinserius. Betul kata orang, kalau sudah kepegang ‘kepala sukunya’, anak buahnyaakan mengikuti jejaknya.

            Sejakmendapat nilai ulangan tertinggi, terjadi perubahan besar pada diri Rumanto.Dia berhenti sama sekali menjadi pengedar narkoba. Dia bercerita, selama inimengedarkan narkoba ke beberapa sekolah. Dia menjadi gembong kecil-kecilan.Mirisnya, yang memperkenalkan dunia hitam padanya adalah pamannya sendiri.Setiap hari ia mendapat keuntungan sekitar 500 ribu. Uang segitu untuk ukuran saatitu sangatlah banyak.  Uang sebanyak ituia habiskan untuk berfoya-foya, tanpa sisa sepeser pun.

            Beberapahari kemudian, kudapati Rumanto membawa tas plastik hitam. Ternyata diaberjualan sandal. Beberapa guru dan teman-temannya membeli jualan Rumanto.Rupanya anak itu punya jiwa bisnis. Aku salut, dia tidak gengsi berjualan diusia mudanya. Aku acungkan jempol ke arahnya, disambut senyumnya yang ceria.

            PerubahanRumanto, tidak berhenti sampai disitu. Pembawaannya, menjadi lebih sopan.Setiap bertemu guru, dia menganggukan kepala dan tersenyum. Jauuuuhh sekalidari sikapnya yang dulu. Bahkan seringkali aku mendapati, ia sedang sholat dimushola sekolah. Tanpa terasa air mataku berderai, menyaksikan ia sujud dengankhusyunya.

            Subhanallah,ketika Allah berkehendak untuk memberi hidayah pada hamba-Nya, maka tidak adayang tidak mungkin baginya untuk bertobat. Dalam doa, kupanjatkan supayaRumanto dan teman-temannya istiqomah dalam menjalankan kebenaran.


Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Pj Bupati Inhil Ingatkan Semua Pihak Tentang Kasus Kekerasan Di Sekolah

Pendidikan

Pj Bupati Inhil Ingatkan Semua Pihak Tentang Kasus Kekerasan Di Sekolah

Pendidikan

Pj Bupati Inhil Ingatkan Semua Pihak Tentang Kasus Kekerasan Di Sekolah

Pendidikan

Peduli Akan Pendidikan, Pj Bupati Inhil Herman Menggelar Pertemuan Dengan Guru Di Kecamatan Kempas

Pendidikan

Studi: Wanita Berpendidikan dan Mapan Makin Enggan Terikat Pernikahan

Pendidikan

Organisasi Mahasiswa Kedokteran Indonesia Dorong Penerapan Kurikulum Pendidikan Seksual