PEKANBARU, PESISIRNEWS.COM - DPRD Provinsi Riau mengecam massa HMI yang kecolongan membawa senjata tajam (Sajam) dalam pelaksanaan kongres. Apapun itu alasannya, tindakan tersebut dinilai tidak tepat mencerminkan mahasiswa yang berperang secara intelek sesama kaum akademisi se-Indonesia."Itu sudah mengarah ke premanisme. Kalau saya menilainya itu sudah punya rencana buruk untuk mengacaukan kongres. Saya mengutuk tindakan yang seperti itu," ujar Ketua Komisi C DPRD Riau Aherson, Selasa (24/11/2015).Disampaikannya, Riau merupakan negeri yang bermarwah dan tidak cocok jika dimasuki budaya anarkis apalagi yang kerap menonjolkan senjata adat. Seperti yang telah disita aparat keamanan dalam sweeping massa HMI kemaren, politisi Demokrat ini mengutuk ditemukannya ada senjata adat yang berasal dari daerah Sulawesi, yakni Badik."Terlepas dari untuk mempertahankan adat, mahasiswa asal Sulawesi dilarang membawa sentaja badik apalagi sentaja tajam lainnya. Bukan hanya untuk Sulawesi saja, massa HMI dari daerah lainnya, diharapkan juga tidak mencontoh perbuatan tersebut," kata Aherson.Lebih lanjut disampaikannya, pihak keamanan diharapkan juga bekerja ekstra mengawasi jalannya kongres HMI ke XXIX. Termasuk pada penjagaan ketat kepada setiap peserta yang masuk ke arena kongres, setidaknya pihak keamanan dapat memeriksa barang bawaan peserta guna mencegah hal-hal yang tidak diharapkan."Pihak keamanan mempunyai peranan penting dalam hal ini. Saya mengapresi langkah tegas mereka yang men-sweeping dan menemukan banyak temuan sentaja tajam dan senjata adat lainnya," ungkapnya.
(**)Sukai Fan Page Facebook Pesisirnews.com, untuk mendapatkan berita terbaru. Silahkan Klik DISINI / Follow twiter klik DISINI