My Idiot Brother, Pentingnya Kebesaran Hati

Penulis : Nuke Ernawati
- Minggu, 05 Oktober 2014 22:42 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir102014/1412524277myidiotbrother.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Bagaimana bila di dalam keluarga, seorang remaja memiliki kakak yang berkebutuhan khusus? Mereka yang berkebutuhan khusus ini mungkin tidak cacat secara fisik, namun dari segi mental harus mendapat perlakuan dan perhatian khusus. Inilah yang terjadi dalam

PESISIRNEWS.com - Semua remaja menginginkan masa mudanya dengan sempurna. Kesempurnaan yang menjadi kriteria banyak anak muda adalah, menjadi anak dari keluarga yang berkecukupan, berwajah dan bertubuh sempurna, cerdas dalam pelajaran sekolah dan banyak memiliki teman serta dipuja lawan jenis. Dan belajar berbesar hati dengan kenyataan yang ada adalah hal yang dipelajari remaja. Ternyata, tak semua remaja bisa menerima realita.

Bagaimana bila di dalam keluarga, seorang remaja memiliki kakak yang berkebutuhan khusus? Mereka yang berkebutuhan khusus ini mungkin tidak cacat secara fisik, namun dari segi mental harus mendapat perlakuan dan perhatian khusus. Inilah yang terjadi dalam film My Idiot Brother.

Dalam bahasa medis, istilah idiot sebetulnya sudah lama ditinggalkan. Indonesia menyebutnya sebagai orang yang berkebutuhan khusus atau istilah dalam bahasa Inggris adalah different ability (difabel). Jadi, judul film ini sebetulnya mengambil kata yang kurang tepat. Namun, bukan salah pembuat film karena ini hanya mengambil judul dari novel berjudul sama karya Agnes Davonar.

Sama seperti novelnya, film ini memberikan edukasi bagi keluarga yang dianugerahi anak berkebutuhan khusus. Banyak keluarga yang menyembunyikan anaknya atau menitipkan ke panti karena malu memiliki anggota keluarga berkebutuhan khusus. Malu sebetulnya adalah manusiawi. Seperti yang dirasakan Angel (Adila Fitri). Sejak kecil ia tahu kondisi kakaknya Hendra (Ali Mensan) yang berkebutuhan. Seiring beranjaknya umur Angel, dia pun mulai bersekolah dan sekolah adalah ujian berat baginya manakala teman-temannya mengolok-olok kondisi kakaknya itu.

Tak tahan selalu diolok-olok, Angel pun minta pindah sekolah dan berharap orangtuanya tidak menampilkan Hendra di lingkungan sekolah dan teman barunya. Angel ingin menikmati masa mudanya yang ceria tanpa diperolok karena kondisi kakaknya.

Namun, suatu hari ibu Angel (Cindy Fatikasari), terpaksa harus membawa Hendra ke sekolah Angel tepat saat bubaran sekolah. Hendra bahkan sudah "bertingkah" di lapangan basket saat jam sekolah berakhir itu. Bisa diduga, kehidupan bersekolah Angel sesudah itu adalah sama dengan kondisi di sekolah lamanya. Keadaan “makin parah karena Angel sedang merasakan jatuh hati dengan Aji (Aaron Ashab), teman sekolahnya. Akankah Angel menyembunyikan realita yang ada di dalam keluarganya? Bagaimana kehidupan bersekolah remaja ini selanjutnya?

Drama keluarga yang menyentuh ini ternyata juga bagian dari realita Adila Fitri sehari-hari yang juga memiliki kakak berkebutuhan khusus. Tontonan ini patut disaksikan seluruh anak dan keluarga, terutama dalam menyikapi mereka yang berkebutuhan khusus. Sebuah realita yang ada di dalam masyarakat kita sehari-hari.

sumber,satuharapan.com


Tag:

Berita Terkait

Opini

Terima Laporan Hasil Pemeriksaan BPK, Kementan Raih Opini WTP 6 Tahun Berturut-turut

Opini

Workshop Public Relations: Kekuatan Opini Publik dan Dampak pada Citra Institusi

Opini

Desakan Praktisi Hukum yang Meminta Kapolres Rohil Dicopot Merupakan Penilaian Subyektif

Opini

Menjadi Wartawan yang Tahan Terhadap Godaan

Opini

Gairah Ilmu, Harapan Mendulang Masa Depan

Opini

Gubernur Anies:Massa 212 Lebih Banyak Daripada Massa menyambut Tahun Baru 2018,Tapi Sampahnya Sedikit