Sambil Tertawa Najwa Shihab Ucap Oknum Mendadak Santri Demi Meraup Suara, Penonton Riuh

- Jumat, 30 November 2018 09:16 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir112018/pesisirnews_Sambil-Tertawa-Najwa-Shihab-Ucap-Oknum-Mendadak-Santri-Demi-Meraup-Suara--Penonton-Riuh.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Tribunjateng.com

Pesisirnews.com - Pernyatan Najwa Shihab membuat para penonton riuh ramai soal mendadak santri di tahun politik.

TribunJateng.com, melihat video tersebut melalui akun Youtube Najwa Shihab dengan judul Mendadak Santri di Tahun Politik | Santri Zaman Now | Shihab & Shihab yang diunggah pada Senin (22/11/18).

Dalam video tersebut mulanya Najwa Shihab menghadirkan Ustadz Quraish Shihab, habiburrahman el shirazy dan ustadz Farid.

Najwa Shihab membacakan pertanyaan netizen.

"Bagaimana tanggapan dan solusi akibat banyaknya sekolah berbasis agama baik Islam, Kristen, maupun agama lain justru membuat jurang pemisah," tanya netizen.

Lantas ustadz Farid menyebut bahwa kini banyak sekali pesantren.

"Ini akan menjadi kontestasi makna santri, santri itu siapa, kadang-kadang kita juga sudah mendengar belakangan ini, alumni pesantren kita juga disebut santri," ujarnya.

Lantas pernyataan itu ditimpali oleh Najwa Shihab.

Sebenarnya santri itu siapa ustadz, soalnya tahun politik banyak yang mau jadi siapa pun, yang penting bisa meraup suara" ujar Najwa Shihab sambil tertawa lepas.

Lantas Ustadz Quraish Shihab ikut tertawa mendengar ucapan Najwa Shihab.

Penonton langsung riuh dan bertepuk tangan.

"Jadi santri itu siapa bi?"

Lantas Ustadz Quraish Shihab menjelaskan bahwa santri adalah orang yang belajar dan paham agama dengan baik.

"Kalau dia tidak paham agama, dia tidak melaksanakan tuntunan agama, dia tidak wajar dinamakan santri, kemudian santri memiliki hubungan kebatinan dan akrab dengan seorang kyai, jadi bukan serta merta memiliki hubungan dekat dengan seseorang yang memiliki pengetahuan yang cukup, tidak mengajarkan tuntunan agama, tapi hanya sekedar mengenakan sorban dan sarung," ujar.

Najwa Shihab Ucap Oknum Mendadak Santri Demi Meraup Suara, Penonton Riuh - Youtube

Kemudian, pertanyaan kedua soal santri yang taat atau santri yang kritis kepada kyai-nya.

"Kalau santri konvensional biasanya saat taat dengan kyai-nya,' ujarnya.

Lantas Ustadz Quraish Shihab menjelaskna biasanya santri jika tidak sepakat dengan Kyai-nya, mereka akan melempar pertanyaan dengan bahasa yang halus.

Santri sangat hormat kepada kyai-nya.

"Santri ideal adalah santri yang taat dan kritis," ujar Ustadz Quraish Shihab.

Setelah itu Ustadz Quraish Shihab mendapatkan pertanyaan dari seorang santri tentang kiat-kiat gemar membaca.

habiburrahman el shirazy lantas memberikan jawaban bahwa sesuatu yang kita cintai jika tahu manfaatnya.

Sebelumnya, Ustadz Quraish Shihab enggan bercerita soal kehidupan dirinya ketika menjadi santri di Malang Jawa Timur.

Quraish Shihab menolak bercerita dengan kelakar waktunya tidak akan cukup.

"Abi kan nyantri sejak SMP ya Bi, SMP di Malang, jadi kita mau tau ceritanya waktu jaman Abi nyantri dulu?," ujar Najwa.

"Enggak cukup waktunya untuk menceritakan semuanya," jawab Quraish Shihab menolah bercerita secara panjang soal pengalamannya nyanti ketika SMP.

Jawaban Quraish Shihab pun mendapatkan gelak tawa dari para hadirin dan juga narasumber yang lain.

"Yang paling seru aja Bi," kata Najwa.

Quraish Shihab pun bercerita soal pengalaman paling seru dirinya ketika nyanti di Malang.

"Yang paling seru, saya mendapat pelajaran yang sangat berharga, dalam hal-hal kecil yang terjadi di pesantren. Ada dua hal."

"Yang pertama makan kita itu sangat sederhana, satu piring dikasi nasi, sedikit daging, kecap dan tempe, ada teman yang tak senang tempe jadi bagaimana caranya bertukar di situ kita belajar untuk saling memahami," kata pendakwah tersebut.

"Yang kedua yang saya ingin garis bawahi bahwa selama saya nyantri di Malang sekitar dua tahun, apa yang saya peroleh di sana lebih berharga dari belasan tahun belajar di Al Azhar, itu disebabkan karena Kiai saya sangat memperhatikan santrinya tidak membeda-bedakan," tambahnya. 

Sumber Tribunjateng


Tag:

Berita Terkait

Nasional

Usai Kabur dari Acara Mata Najwa, Netizen Minta Ketua KPI Agung Suprio Mundur, Ini Profilnya

Nasional

Penyerahan Santunan bagi KPPS Meninggal-Sakit Dilakukan Serentak

Nasional

Kisah Pemuda Tamatan SMP di Payakumbuh yang Retas Situs KPU, Tak Niat Jahat hingga Dapat Sertifikat

Nasional

Ketua KPU Tak Setuju Pembentukan Tim Pencari Fakta Kecurangan Pemilu 2019, Ini Alasannya....

Nasional

Apakah Jokowi dan Prabowo Sadar? Cuma Mereka yang Bisa Redam Emosi Publik

Nasional

Raffi Ahmad Ungkap Alasan Pilih Jokowi, Teuku Wisnu Blak-blakan Kenapa Mendukung Prabowo