Muhammadiyah: Indonesia Dibangun Atas Konsensus Bersama, Bukan Satu Golongan

- Selasa, 29 Januari 2019 15:47 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/berita/dir012019/698_Muhammadiyah--Indonesia-Dibangun-Atas-Konsensus-Bersama--Bukan-Satu-Golongan.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Ketua PP Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir mengajak semua mengedepankan ukhuwa

Jakarta–Ketua PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir mengatakan, Bangsa Indonesia adalah hasil konsensus bersama. Karenanya, ia berharap semua instansi pemerintahan Indonesia berasaskan meritokrasi atau dasar kepantasan dan karir, jangan di atas kriteria primordialisme atau sektarianisme.

"Jika Indonesia ingin jadi negara modern yang maju, maka bangun good governance dan profesionalisme, termasuk di Kementerian Agama. Jangan berdasarkan kriteria golongan, apalagi dijadikan milik golongan tertentu," tutur Dr Haedar Nashir dalam pernyataan yang dimuat di laman Suara Muhammadiyah, Senin (28/01/2018)

Pernyataan ini disampaikan sehubungan dengan pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dalam perayaan Harlah Muslimat NU ke-73 di Gelora Bung Karno yang menjadi polemik di ruang publik.

PP Muhammadiyah, berharap warga Persyarikatan Muhammadiyah dan umat Islam secara umum menyikapi dengan bijak dan tidak terbawa suasana polemik.

"Tetap menciptakan suasana tenang dan ukhuwah, tidak perlu merespon berlebihan.Jika primordialisme dibiarkan masuk dan dominan dalam institusi pemerintahan, maka akan menghilangkan objektivisme dan prinsip negara milik semua."

"Bahayanya jika hal itu dibiarkan akan menjadi preseden buruk bagi demokrasi, bahkan dapat memicu konflik atau perebutan antargolongan di Indonesia," ulasnya. Bahkan, hal ini menjadi preseden buruk bagi bangsa Indonesia yang besar dan multikultur.

Haedar mengingatkan bahwa Indonesia jangan didominasi oleh satu golongan apalagi bermazhab golongan tertentu.

"Apalagi jika pandangan golongan itu menegasikan komponen bangsa lainnya, dengan menganggap diri paling benar, hal itu merupakan bentuk dari fatanisme dan menjurus ke radikalisme. Mau dikemanakan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika?" tanya Haedar retoris.

Namun demikian, Haedar berharap pidato Ketua PBNU tidak perlu ditanggapi berlebihan. "Pesan saya hendaknya pernyataan Kiai Said Aqil Siradj jangan jadi polemik di lingkungan umat Islam dan masyarakat, lebih-lebih di tahun politik. Semua pihak diharapkan bijak dan tidak memperpanjang masalah ini. Kita lebih baik mengedepankan ukhuwah dan mengerjakan agenda-agenda yang positif bagi kemajuan umat dan bangsa," tukas Haedar Nashir.

Sumber
: Indonesiainside.id

Tag:

Berita Terkait

Nasional

Hadiri Pemakaman, Kapolri: Pesan Eyang Meri Jadi Inspirasi dan Semangat Keluarga Besar Polri

Nasional

Bupati Inhil Tinjau Hewan Kurban Bantuan Presiden dan Gubernur, Siap Berlebaran Bersama Masyarakat di Sungai Guntung

Nasional

Lapor Pak Presiden! Usut Dugaan Penyelewenangan Uang Negara Dibalik Seluruh Penghargaan Dirut PLN

Nasional

Dukung Asta Cita Presiden, Personel Polres Inhil Cek Urine

Nasional

Kick Off Ketahanan Pangan di Inhil, Dukung Program Asta Cita Presiden

Nasional

Daftar Lengkap Susunan Kabinet Merah Putih