Pupusnya kemenangan Amerika di Afghanistan

- Sabtu, 03 Februari 2018 13:06 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir022018/pesisirnews_Pupusnya-kemenangan-Amerika-di-Afghanistan.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Pesisirnews.com - Setelah 16 tahun berperang di Afghanistan, sejumlah ahli mulai berhenti mempertanyakan kemenangan seperti apa yang bisa diraih Amerika. Mereka kini berbalik dan mulai menimbang kekalahan macam apa yang akan dialami Amerika.

Ambisi Amerika memenangkan perang di Afghanistan kini sudah pupus dan masa depan Afghanistan menjadi tak menentu.

"Saya kira sekarang ini tidak ada lagi pengamat yang melihat perang Afghanistan bisa dimenangkan (AS)," ujar Laurel Miller, pengamat politik di RAND Corporation dan perwakilan khusus Kementerian Luar Negeri AS untuk Afghanistan dan Pakistan.

Sejumlah pengamat menilai, setelah menghabiskan dana perang lebih dari USD 100 miliar dan ribuan nyawa melayang, setelah dua pekan paling berdarah di Kabul, Amerika kini tampaknya memilih status quo.

Miller menyebut strategi AS kini adalah 'mencegah kalahnya pemerintah Afghanistan dan mencegah kemenangan Taliban' selama mungkin. Cepat atau lambat, suka tidak suka, Amerika dan Afghanistan, akan menghadapi akhir perang.

Dilansir dari laman the New York Times, Kamis (1/2), menurut pakar Afghanistan dari Carnegie Endowment for International Peace, Frances Z Brown, ada beberapa skenario yang bisa terjadi.

Skenario pertama, koalisi Amerika akan mengabaikan upaya untuk membentuk negara terpusat dan memberikan kesempatan kepada rakyat Afghanistan untuk membangun negara mereka sendiri dari bawah.

Itu artinya pemerintah pusat hanya sebagai perantara di antara para pemimpin lokal dan pemimpin perang. Idealnya, seiring berjalannya waktu, Afghanistan akan menjalankan ekonominya kemudian merangkul demokrasi dan akhirnya mencapai perdamaian dan stabilitas.

"Tapi dari kasus yang sudah-sudah ini semua butuh waktu bergenerasi," ujar Brown.

Skenario ini menuntut toleransi bagi kehadiran Taliban di kawasan terpencil dan kondisi bisa memicu kemelut krisis lebih pelik.

militan taliban di afghanistan AP/Allauddin Khan

Yang berikutnya adalah skenario ala Somalia.

Pemerintah Afghanistan akan melepaskan kota-kota besar dan beralih menjadi sistem federal, seperti yang dilakukan Somalia pada 2012. Kekuasaan bisa diraih oleh para tokoh masyarakat dan para pemimpin perang, termasuk Taliban yang bisa bangkit dari kawasan pedalaman.

Model Somalia ini bisa 'membantu' terjadinya perpecahan. Warga lokal bisa berupaya sendiri untuk berdamai dengan Taliban dan di beberapa daerah terpencil hal inilah yang sedang terjadi.

Sumber Merdeka.com 

Berita Terkait

Berita

Gagal Lolos X-Ray! Kurir Asal Aceh Bawa 2 Kg Sabu Ditangkap, Polisi Telusuri Asal Barang

Berita

Dekranasda Inhil Luncurkan Baju Pengantin Sri Gemilang, Angkat Keindahan Budaya Melayu

Berita

Kapolres Indragiri Hilir Beri Kejutan Ulang Tahun ke-42 untuk Dandim 0314/Inhil, Perkuat Sinergitas TNI–Polri

Berita

Gudang Narkoba Dibongkar, Polisi Buru Otak Jaringan dan Kejar Aset Lewat TPPU

Berita

Polda Riau Siapkan Pusat Studi Kepolisian dan Lingkungan, Perkuat Green Policing Berbasis Riset

Berita

Bupati Herman Lepas 131 Jamaah Umrah PT Bimalyndo Hajar Aswad, Pesankan Jaga Kesehatan dan Doakan Daerah