Soal Hutan Indonesia Tertinggal dari Brazil

- Kamis, 21 Agustus 2014 08:35 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir082014/14085854700,,17784294_303,00.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Pembukaan lahan hutan untuk kelapa sawit di Kalimantan

PESISIRNEWS.com-  Brasil dulang pujian karena berhasil menahan laju deforestasi di kawasan Amazona. Sebaliknya Indonesia memasuki masa ketidakpastian menyusul pergantian kekuasaan. Prioritas baru dikhawatirkan lebih untungkan pengusaha

Ketika Brasil mencatat kemajuan pesat dalam menjaga keutuhan hutan Amazon, prospek perlindungan hutan Indonesia dikhawatirkan malah melemah. Hal tersebut diungkapkan oleh sebuah komisi bentukan pemerintah Norwegia.

Norwegia sebelumnya berkomitmen membantu program perlindungan hutan di kedua negara sebesar masing-masing satu miliar US Dollar. Dana yang dianggarkan mencapai 1,7 miliar US Dollar untuk jangka waktu lima tahun.

"Laju deforestasi dan emisi gas rumah kaca di Brasil menurun drastis," tulis ilmuwan dalam laporannya. Norwegia sejauh ini telah mengucurkan sekitar 720 juta dari dana satu miliar Dollar AS yang dijanjikan kepada Brasil.

Indonesia Masih Ketinggalan

Sebaliknya menurut lembaga kerjasama pembangunan Norwegia (NORAD), Indonesia baru mendapat dua persen saja dari dana bantuan tersebut. Menurut Norad, Indonesia telah "mencetak kemajuan yang baik" dalam melindungi hutan.

Namun "pergantian kekuasaan dan kelemahan hukum," dalam perlindungan hutan "secara serius mengancam pencapaian yang sudah dibuat." Indonesia memiliki kawasan hutan terbesar ketiga di dunia setelah Amazona dan Basin Kongo.

Ancaman terbesar buat keutuhan hutan Indonesia adalah kegiatan tambang dan perkebunan kelapa sawit.

Bergantung pada Jokowi

Norwegia mengkhawatirkan, naiknya Joko Widodo yang menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono di istana negara Oktober mendatang bisa memunculkan "prioritas baru," kata Ida Hellmark, seorang koordinator Norad. Menurutnya haluan baru pemerintahan RI bisa menguntungkan pengusaha perkebunan.

Dalam program pemerintahnya selama masa kampanye, Jokowi berkomitmen untuk membenahi pengelolaan hutan agar menghindari tumpang tindih perizinan. Ia juga menegaskan akan mendorong penghijauan kembali wilayah pesisir.

Belum jelas bagaimana sikapnya terhadap komitmen pemerintahan Yudhoyono terkait perlindungan hutan. Jika gagal, Indonesia bisa kehilangan dana bantuan dari Norwegia. (dw.indonesia)


Tag:

Berita Terkait

Berita

Polda Riau Bongkar Dugaan Kejahatan Lingkungan Korporasi Sawit, Kerugian Ekologis Tembus Rp187 Miliar

Berita

Pj Bupati Inhil Erisman Berkomitmen Ciptakan Lingkungan Pendidikan Bebas Kekerasan

Berita

Pj Bupati Inhil Tinjau Progres Pekerjaan Semenisasi Bersama Kadis Perkim

Berita

Kadis Diskominfo Pers Inhil Trio Beni Putra Raih Program Doktor di Bidang Ilmu Lingkungan Hidup

Berita

Presiden Tekankan Pembangunan Infrastruktur harus Ramah Lingkungan

Berita

Wapres Berharap Makin Banyak Perusahaan yang Jadi Agen Perubahan Lingkungan