MERANTI, PESISIRNEWS.COM - Akibat adanya kandang babi yang berdekatan dengan pelabuhan Kuala Asam, warga Teluk Belitung, Kecamatan Merbau Kepulauan Meranti, merasa terganggu sebab menimbulkan bau yang tidak sedap hingga di area pelabuhan.Seorang pemuda Teluk Belitung, Andi, mengatakan keberadaan kandang babi yang hanya berjarak sekitar kurang lebih 30 meter dari pelabuhan menimbulkan bau yang tak sedap."Masalahnya, mereka membangun kandang babi berdekatan dengan pelabuhan, jaraknya hanya sekitar kurang lebih 30 meter. Bau busuknya itu sampai ke pelabuhan," ujarnya Kamis (15/10).Menurut Andi, pelabuhan Kuala Asam tersebut merupakan tempat bersandarnya kapal fery dan speedboat tujuan Selatpanjang dan Bengkalis. Akibat kandang babi, menurut Andi, pelabuhan Kuala Asam tersebut berbau kotoran babi.Hal yang sama juga dirasakan oleh Suriman, warga Kuala Asam yang berprofesi sebagai nelayan ini juga mengaku terganggu, akibatnya Suriman terpaksa harus melaut lebih jauh ke tengah laut untuk menghindari bau tidak sedap tersebut. Selain menimbulkan mual, Suriman juga kerap pusing saat angin membawa aroma bau busuk ke arahnya."Apalagi kalau belum sarapan, dalam keadaan perut kosong tercium bau busuk, kepala saya langsung pening," ungkapnya.Suriman mengungkapkan, kandang babi milik peternak memang sangat menganggu kenyamanan masyarakat di sekitar sini, karena menimbulkan bau yang sangat menyengat hidung terlebih pada musim hujan atau musim surut, sebab kotoran babi yang jatuh ke tepian laut tidak hanyut ke tengah lautan."Kami merasa tidak nyaman. Apalagi pada musim hujan bau menyengat yang bersumber dari kandang babi membuat warga tidak tahan,"ujarnya.Sementara itu, Lurah Teluk Belitung, Kasmiatun, S.Hum mengatakan, pihak kelurahan beserta Camat Merbau telah menegur sejumlah peternak babi yang berada di tepian laut agar memindahkan kandang babi mereka ke kawasan yang tidak mengganggu lingkungan. Namun kendalanya para peternak babi tidak memilki lahan untuk tempat dibangun nya kandang babi mereka.Padahal tak satupun dari mereka yang memiliki hak atas tanah tersebut. Menurut Kasmiatun, pada umumnya para peternak hanya memakai lahan tersebut. Kasmiatun juga mengungkapkan, keberadaan kandang babi tersebut telah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Beternak babi bagi masyarakat suku tionghoa menurut Kasmiatun merupakan usaha turun temurun yang dilakoni masyrakat tersebut."Ada 6 peternak babi yang saat ini berada di sekitar pelabuhan, selebihnya sudah pindah. Sebelum dibangun pelabuhan itu, kami sudah sampaikan ke RT dan RW agar merelokasi kandang-kandang itu, namun peternak babi belum mampu membeli lahan baru," ujarnya mengakhiri.(Adi)