LONDON (Pesisirnews.com) - Perdana Menteri (PM) Inggris Liz Truss secara mengejutkan menyatakan, mundur dari jabatannya, pada Kamis (20/10).
Pengunduran diri Truss karena kondisi perekonomi Inggris yang belum juga kunjung membaik.
Truss menyatakan, tidak mampu membalikkan situasi perekonomian negara. Itu, setelah Inggris mengalami inflasi di iatas 10 persen.
"Namun saya mengakui, mengingat situasinya, saya tidak dapat menyampaikan mandat di mana saya dipilih oleh Partai Konservatif. Karena itu, saya telah berbicara dengan Yang Mulia Raja untuk mengumumkan bahwa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif," kata Truss dilansir dari laman CNBC Internasional, Jumat (21/10/2022).
Truss diangkat menjadi PM Inggris, pada (6/9/2022), hanya dua hari sebelum Ratu Elizabeth II meninggal.
Dalam kebijakannya, Truss dan mantan Menteri Keuangan Kwasi Kwarteng sempat mencanangkan 'anggaran-mini'. Tujuannya, untuk membiayai stimulus kenaikan harga energi, dan nantinya akan dibiayai dengan menambah utang.
Namun bertentangan dengan kebijakan kenaikan suku bunga bank sentral. Akibat manuver ini, terjadi kekacauan di pasar obligasi dan mata uang poundsterling jatuh ke level terendahnya.
[br]
Kwarteng sendiri sebelumnya telah mundur beberapa hari lalu dan digantikan oleh Jeremy Hunt. Sementara itu, pengunduran dirinya menyusul pertemuan dengan Graham Brady.
Brady adalah politisi Konservatif yang bertanggung jawab atas suara kepemimpinan dan perombakan.
Brady sendiri juga mengepalai Komite 1922 yang memiliki wewenang mengajukan surat tidak percaya pada PM.
Dengan pengundurannya ini, Truss hanya menjadi kepala pemerintahan dalam waktu 45 hari. (PNC)