TEXAS, Pesisirnews.com - Pasca pemberontak Houthi Yaman melancarkan serangan bom ke fasilitas minyak Arab Saudi, harga minyak mentah dunia jenis Brent sempat menembus level US$ 70 per barel pada perdagangan Senin (8/3/2021).
Brent sempat naik ke US$ 71,38 per barel, tertinggi sejak Januari 2020, sebelum pandemi Covid-19 meluas. Sementara WTI sempat naik ke US$ 67,98 per barel, tertinggi sejak Oktober 2018. Namun, pada penutupan Senin, Brent akhirnya turun 1,61% ke US$ 68,24. Sementara WIT turun 1,57% ke US$ 1,04 per barel.
Naiknya harga emas disebabkan oleh serangan militer Houthi menggunakan drone dan peluru kendali terhadap fasilitas pengolahahan minyak Arab Saudi pada hari Minggu (7/3/2021) lalu. Juru bicara militer Houthi mengaku pihaknya bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan fasilitas minyaknya di salah satu pelabuhan migas terbesar di dunia diserang drone dan rudal balistik menyerang fasilitas milik Saudi Aramco.
Juru bicara Arab Saudi mengatakan tidak ada korban jiwa ataupun kerusakan material dalam serangan tersebut. Arab Saudi mengatakan mereka berhasil menangkis peluru kendali.
"Serangan tersebut tidak hanya mengincar Kerajaan Arab Saudi, tetapi juga keamanan dan stabilitas persediaan energi dunia, dan oleh karena itu, (serangan terhadap) ekonomi global," kata Kementerian Energi Arab Saudi.
[br]
In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful
A statement by the Yemeni Armed Forces
Almighty says: "Do not be weak in pursuit of the enemy_"if you are suffering, they are also suffering as you are suffering …
_" Yahya Sare'e (@Yahya_Saree) March 7, 2021
Yahya Sare'e, juru bicara Houthi Yaman, mengatakan pihaknya bertanggung jawab atas serangan yang menggunakan 14 drone dan delapan rudal. Melalui akun Twitter, dia mengatakan serangan juga ditujukan kepada target militer menggunakan empat drone dan tujuh rudal, dan serangan tersebut tepat pada sasaran.
"Kami berjanji, rezim #Saudi akan menderita serangan yang menyakitkan selama mereka masih melakukan agresi dan blokade terhadap negara kami," kata Sare'e.
Arab Saudi mencampuri perang sipil Yaman pada tahun 2015 dalam perang yang oleh pengamat disebut sebagai perang proxy dengan Iran.
Sumber: (CNBC.com)