BEIRUT, Peisirnews.com - Di lokasi ledakan di pelabuhan Beirut, para pekerja masih mencari puluhan orang yang hilang sejak ledakan dahsyat pada Selasa (4/8/2020) lalu. Buldoser juga terlihat membersihkan puing-puing renruntuhan bangunan dan berbagai material lain di area terdampak.
Bantuan internasional pun telah mengalir ke Lebanon sejak kejadian itu dan beberapa rumah sakit lapangan telah didirikan di sekitar Beirut untuk membantu merawat yang terluka.
Namun kondisi kota Beirut yang masih terkoyak tidak menyurutkan ribuan orang untuk membanjiri alun-alun utama Beirut pada Sabtu (8/8/2020) pagi.
Mereka bergerak menuju gedung parlemen untuk melakukan protes kepada penguasa dan politisi yang dianggap lalai menjalankan tugasnya dalam menjaga keselamatan kota.
Padahal saat itu pemerintah Lebanon tengah menerima kunjungan para pejabat senior dari Timur Tengah dan Eropa yang tiba di Lebanon untuk menunjukkan solidaritasnya kepada negara kecil itu.
[br]
Para pengunjuk rasa memasang tali simbolis untuk menggantung politisi yang korupsi serta pemerintah yang dianggap tidak mampu membebaskan Lebanon dari krisis ekonomi dan keuangan terburuk dalam beberapa dekade.
Namun, ketika protes sedang berlangsung, sekelompok kecil pemuda mulai melempari pasukan keamanan dengan batu.
Para pengunjuk rasa kemudian membakar sebuah truk yang dipasang sebagai barikade di jalan menuju parlemen.
Di dekat kantor parlemen, polisi anti huru hara lalu menembakkan gas air mata ke para pengunjuk rasa yang melemparkan batu dan mencoba melompati penghalang yang menutup jalan menuju legislatif. Akibatnya bentrok pun tidak terhindarkan.
Tentara mengeluarkan pernyataan yang mengingatkan para pengunjuk rasa untuk bertindak damai dan tidak menutup jalan atau menyerang properti publik atau pribadi.
Polisi juga mengeluarkan pernyataan agar mereka dapat bertindak dengan cara yang beradab jauh dari kekerasan.
[br]
Protes pada hari Sabtu adalah demonstrasi signifikan pertama pasca ledakan, dimana pada saai itu akan diadakan acara pemakaman secara simbolis bagi korban yang tewas.
Meski pihak berwenang sudah mengambil langkah hukum dengan menahan 19 orang, termasuk kepala pelabuhan, kepala departemen bea cukai Lebanon dan pendahulunya, namun sikap para pejabat yang saling menyalahkan membuat rakyat muak sehingga meledak dalam aksi protes itu.
Walau pun disambut dengan unjuk rasa, tetapi Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit tetap bersimpati kepada rakyat Lebanon.
"Kami akan mendukung Lebanon melalui semua cara yang tersedia," kata Ahmed Aboul Gheit kepada wartawan setelah bertemu dengan Presiden Lebanon Michel Aoun pada Sabtu (8/8/2020) pagi.
Non ReportaseSumber : Reuters