Seleksi Gender Pangkas Populasi Nyamuk Malaria

- Kamis, 12 Juni 2014 09:10 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir062014/14025407390,,16773007_303,00.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

PESISIRNEWS.COM - Ilmuwan Inggris berhasil memusnahkan satu generasi nyamuk malaria dengan menggandakan populasi nyamuk jantan. Cara ini diyakini sebagai metode paling murah dan efektif melawan penyebaran penyakit mematikan tersebut

Sekelompok pakar Biologi mengklaim berhasil mengembangkan metode ampuh dalam perang melawan nyamuk malaria. Caranya dengan menggandakan populasi nyamuk jantan lewat modifikasi genetika. Metode seleksi gender itu mampu memproduksi satu generasi nyamuk yang 95-persennya terdiri dari nyamuk jantan.

Karena jumlah nyamuk betina menurun drastis, populasi nyamuk perlahan menghilang dengan sendirinya. "Malaria tidak cuma melemahkan, tetapi juga bisa berakibat fatal. Jadi kami harus menemukan cara baru buat mengatasinya," kata Andrea Cristanti, seorang professor di Imperial College London.

"Kami kira pendekatan inovatif kami adalah sebuah terobosan. Untuk pertamakalinya kami bisa memanipulasi produksi jentik nyamuk betina di laboraturium. Dan temuan kami menghasilkan cara baru buat memusnahkan penyakit ini," katanya.

Murah dan Efektif

Ilmuwan menyuntikkan enzim DNA ke dalam kode genetik milik embrio nyamuk jantan. Modifikasi itu menghancurkan pembentukan kromosom X ketika nyamuk mulai memproduksi sperma. Hasilnya sperma nyamuk nyaris tidak mengandung kromosom X dan akhirnya memangkas jumlah nyamuk betina.

Sebaliknya sperma nyamuk banyak mengandung kromosom Y, yang memproduksi nyamuk jantan. 

"Penelitian ini masih berada di tahap awal. Tapi saya berharap pendekatan baru ini bisa menghasilkan cara yang murah dan efektif untuk memusnahkan malaria dari satu kawasan," kata salah seorang anggota tim peneliti, Roberto Galizi.

Dulang Pujian

Temuan tim ilmuwan yang dipimpin Cristanti itu mendulang pujian dari pakar malaria di Universitas Oxford, Michael Bonsall. "Hasil kerjanya luar biasa," katanya. "Ini memiliki implikasi yang penting untuk membatasi penyebaran malaria," ujarnya kepada sebuah jurnal sains Inggris,

"Akan sangat menarik untuk melihat bagaimana teknologi yang sangat spesifik ini dimatangkan," imbuh Bonsall. Penelitian Cristanti fokus pada jenis nyamuk malaria, Anopheles gambiae mosquitoes. Jenis ini adalah pembawa parasit malaria yang paling berbahaya.

Malaria setiap tahun membunuh lebih dari 600.000 orang di seluruh dunia. Korban terbesar adalah anak-anak yang hidup di kawasan Afrika Sub Sahara, menurut data Badan Kesehatan PBB (WHO).

rzn/ab (afp,dpa)

editor yes

Berita Terkait

Berita

Polantas Karib Hadir di Car Free Day, Satlantas Polres Inhil Kampanyekan Keselamatan Berlalu Lintas

Berita

Kebakaran di Kateman, 4 Bangunan Warga Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp300 Juta

Berita

14 Tahun Mengabdi, IWO Berbagi Kebahagiaan di SD Muhammadiyah Bukit Duri

Berita

Tak Ada Ruang bagi Premanisme! PERADI, TPPA, dan IKADIN Bersatu Kawal Kasus Dugaan Intimidasi terhadap Advokat

Berita

Wabup Inhil Ajak Masyarakat Bermunajat dalam Doa Bersama Tolak Bala

Berita

Apel Gabungan Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026