SELATPANJANG, PESISIRNEWS.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Meranti terus melakukan pengawasan di titik lokasi bekas Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut). Hal ini dilakukan sebagai antisipasi agar di lahan bekas terbakar tidak kembali menimbulkan api.
"Kita masih merasa was - was. Angin kencang menjadi permasalahan di lapangan. Sebab bara api akan kembali menjadi jika ditiup oleh angin. Tapi mudahan - mudahan kita lakukan pengawasan, dapat diantisipasi masalah ini," kata Plt Kepala BPBD Kepulauan Meranti, Edy Afrizal, Kamis (7/4/16).
paya pengawasan yang dilakukan berada lokasi yang kondisi lahannya rawan dan mudah terbakar. Seperti di Dusun Parit Jawa Desa Tanjung Kedabu, Kecamatan Rangsang Pesisir. Di lokasi tersebut merupakan lahan milik PT Sumatera Riang Lestari (SRL).
Sementara satu lokasi yang juga kembali terbakar yakni, di Desa Sonde Kecamatan Rangsang Pesisir. Lokasi yang terbakar di titik kebakaran yang terjadi sebelumnya.
"Di Desa Tanjung Kedabu yang masih terbakar itu lebih kurang seluas sekitar 100 hektar, sejak empat hari lalu. Sedangkan di Desa Sonde sudah padam, hanya tinggal asap. Terbakarnya sekitar seluas kurang lebih 50 hektar, karena belum ada perhitungan secara pasti,” jelas Edy.
Lebih jauh, Edy mengaku saat ini sudah kehabisan dana untuk membantu proses pemadaman di lokasi. Sehingga pihaknya kesulitan untuk turun ke lokasi. Menurutnya, alokasi anggaran yang dianggarkan sebesar lebih kurang Rp 400 juta.
“Yang memadamkan api cuma kita. Sementara SKPD terkait lainnya tidak membantu sama sekali. Makanya kita meminta bantuan dari BNPB Provinsi untuk melakukan water bombing dengan helikopter MI 8,” ungkapnya.
Plt Kepala BPBD Kepulauan Meranti itu juga mengungkapkan, saat pemadaman di lapangan pihak perusahaan mengaku mampu mengatasinya. Mereka menggunakan alat berat untuk membuat sekat kanal dan menggali sumber air.
“Infonya ada sebanyak 30 orang petugas perusahaan yang memadamkan api di lokasi kebakaran,” tutur Edy. (mad)