BUKITKERIKIL, PESISIRNEWS.com.Pengaruh kondisi iklim yang tidak menentu, mengakibatkan intensitas serangan hama ulat api terjadi peningkatan pada awal tahun ini. Serangan ulat api dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi perkebunan kelapa sawit.
Hal ini sedang berlansung di Perkebunan Kelapa Sawit masyarakat. Petani di desa bukit kerikil mulai resah karena pendapatan utamanya dari buah sawit terancam merosot karena serangan ulat api (setora nitens) Ulat api ini menyerang amat ganas sehingga daun pohon sawit petani dalam beberapa jam hanya tinggal lidi dan menyeberang kepohon sawit sebelahnya.
Tanpa daun pohon sawit tidak akan mampu menghasilkan buah karena daun adalah tempat memasak mengolah makanan ibarat dapur didalam rumah.
Wilayah desa bukit kerikil yang sudah kena wabah ulat api ini daerah Gapoktan perbatasan rawang babi yang jalannya dari samping rumah toke sawit Sudip Dusun 1 dan daerah RT 08, dan RT 09 Dusun 3 bukit kerikil.
Keluarga petani terdiri dari suami istri dan anaknya di Rt 08 sedang mengumpulkan telor ulat api yang didapatkan dengan cara mengorek tanah diseleliling batang pohon sawit. "Abang lihat sendiri baru 5menit sudah setengah ember telor bakal ulat api yang sudah aku kumpulkan" ujar bapak Rambe seorang petani sawit kepada pesisirnews..
Pak Rambe ini mengatakan daun pohon sawitnya sudah lebih setengah hektar daunnya habis tinggal lidi dan hasil pendapatannya merosot karena sawitnya.
Selain itu pak rambe ini mengeluh karena meskipun 3 bulan sudah terserang wabah ulat api sama sekali belum ada perhatian dari pemerintah desa bukit kerikil. "Jangankan menanya bang, datang aja tidak pernah melihat wabah penderitaan kami karena wabah ulat api" "Saya sangat berharap agar pejabat didesa kami ini mau memperhatikan kami petani rakyat kecil ini".
Ketika dikonfirmasikan ke pejabat kepala desa Sarwan Eko melalui Handphone dicoba berkali kali tidak diangkat. (sahat)