DUMAI, PESISIRNEWS.COM – Akibat bencana kabut asap kebakaran hutan dan lahan, jumlah penderita Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) di Kota Dumai terus meningkat tajam. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Dumai hingga 17 Oktober 2015, penderita ISPA (batuk pilek) sudah mencapai 31.285 jiwa sedangkan ISPA (pneumonia) 421 jiwa.“ Hingga 17 Oktober 2015, penderita ISPA (batuk pilek) sudah mencapai 31.285 jiwa sedangkan ISPA (pneumonia) 421 jiwa. Jadi totalnya mecapai 31.706 jiwa. Jumlah itu meningkat karena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Kota Dumai,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Dumai, H Paisal, SKM, MARS, kemarin.Dirincinya, bulan Januari penderita ISPA 3351 jiwa, Pneumonia 69 jiwa, Februari ISPA 3479 jiwa, Pneumonia 37 jiwa, Maret ISPA 2870 jiwa, Pneumonia 34 jiwa, April ISPA 3166 jiwa, Pneumonia 31 jiwa, Mei ISPA 2673 jiwa, Pneumonia 41 jiwa, Juni ISPA 2471 jiwa, Pneumonia 33 jiwa, Juli ISPA 2628 jiwa, Pneumonia 27 jiwa, Agustus ISPA 3138 jiwa, Pneumonia 42 jiwa, September ISPA 4066 jiwa, Pneumonia62 jiwa, Oktober hingga tanggal 17 ISPA 3443 jiwa dan Pneumonia 45 jiwa. Menurut Paisal, dari angka tersebut dapat dilihat jumlah penderita ISPA terus mengalami peningkatan, peningkatan yang signifikan terjadi pada Agustus hingga Oktober 2015. Penyakit ISPA yang diderita masyarakat Dumai akibat bencana kabut asap Karhutla.“ Supaya jumlah penderita tidak bertambah, saya menghimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, dan jika harus keluar ruangan agar menggunakan masker. Selain itu banyak minum air putih dan makan makanan yang mengandung multivitamin untuk menjaga daya tahan tubuh,” sarannya.Lebih lanjut Paisal mengatakan, selain ISPA, akibat bencana kabut asap kebakaran hutan dan lahan jenis penyakit Asma juga ikut meningkat, berdasarkan data dari Puskesmas, Klinik Kesehatan dan rumah sakit yang ada di Kota Dumai. Jumlah penderita Asma hingga 17 Oktober 2015 yakni 850 jiwa, iritasi mata 527 jiwa, sedangkan iritasi kulit 3207 jiwa.Terpisah, Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Dumai Bambang Surianto menyebutkan, bahwa akibat bencana kabut asap kebakaran hutan dan lahan kondisi udara di Kota Dumai sudah tidak sehat bagi kesehatan.“Asap kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan kondisi udara di Dumai tidak sehat. Kadar polusi akibat asap menyebabkan oksigen berkurang di udara.” Kata Bambang Surianto.Selain berkurangnya oksigen, kabut asap kebakaran hutan dan lahan juga mengandung partikel berukuran 1,0 dan 2,5 mikron. Partikel yang dibawa merupakan partikel debu sisa dari pembakaran hutan dan lahan dan sangat berhaya bagi kesehatan jika terhirup oleh manusia melalui saluran pernapasan dan dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti ISPA dan Asma serta penyakit lainnya“ Untuk itu, kami tidak bosan-bosannya KLH mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat Dumai untuk mengurangi aktivitas diluar ruangan, dan gunakan masker jika keluar rumah untuk menghindari masuknya partikel halus kedalam tubuh melalui saluran pernasapan kita,” ujarnya.Terkait kualitas udara di Kota Dumai pada Rabu kemarin, Bambang Surianto mengatakan, berdasarkan pengukuran menggunakan alat ISPU milik PT Chevron Dumai, ISPU berada di level 391 PSI, pengukuran dilakukan sekitar Pukul 14.12 WIB.“ Rata-rata kadar polusi di Dumai sudah melebihi 300 PSI. Ini sudah tidak sehat bagi kesehatan. Sebaiknya warga kurangi aktivitas di luar ruangan dan terus gunakan masker jika berada diluar ruangan,” pesannya.Meski sudah terjadi penurunan dibandingkan pada Senin kemarin yang berada dilevel 447 PSI namun kwalitas udara di Dumai masih berada di level berbahaya.“ Normalnya itu 51-100 PSI, diatas 100 – 200 PSI masuk kategori tidak sehat, 300 hingga 500 sudah masuk kategori Bahaya,” tukasnya.Pantauan dilapangan, asap tebal berwarna putih turun bak embun dipagi hari sehingga terlihat jelas menyelimuti setiap sudut Kota Dumai. Asap tebal sisa kebakaran hutan dan lahan membawa partikel halus berwarna putih serta mengeluarkan bau menyengat dan menempel dibaju serta terasa sesak jika udara terhirup saat kita bernafas. (dcp)(rio)