MERANTI, PESISIRNEWS.com – Beredarnya rokok ilegal ternyata menjadi momok. Bukan cuma lantaran dampak buruknya bagi kesehatan, melainkan jebolnya pendapatan negara yang seharusnya diperoleh dari cukai.Selain kerugian di Indonesia, kasus rokok ilegal juga meresahkan pemerintah Malaysia. Wall Street Journal mengabarkan sepanjang 2012 pemerintah Malaysia kehilangan pendapatan US$ 622 juta atau sekitar Rp 7 triliun akibat rokok ilegal. Malaysia menduduki posisi kedua dalam daftar penggelapan pajak rokok setelah Australia yang merugi US$ 1,14 miliar (Rp 13 triliun).
Dari total konsumsi rokok di Malaysia yang ditaksir 23 miliar batang, 34,5 persen di antaranya merupakan rokok ilegal. Awal tahun ini, Bea dan Cukai Malaysia melaporkan telah memusnahkan lebih dari 45 juta batang rokok selundupan. Selain tak membayar pajak, rokok ilegal biasanya dijual dengan harga lebih murah sehingga merugikan industri legal..
Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Bedanya, rokok ilegal tidak melulu hasil selundupan, melainkan juga buatan pabrikan kecil yang lolos dari pantauan pemerintah. Rokok ilegal juga bisa berupa rokok palsu yang kandungan materialnya membahayakan kesehatan.Dari penelusuran sindikat penyeludupan rokok Gudang Garam oleh team pesisirnews.com baru-baru ini,dimata warga bukan rahasia lagi bagi , bahwa aksi penyeludupan rokok Gudang Garam ke Malaysia dari sungai baru desa ketapang permai kecamatan merbau kabupaten Kepulauan Meranti.
Meskipun sudah terjadi sejak bertahun-tahun dan merugikan negara hingga miliaran rupiah itu meskipun sudah diketahui oleh aparat penegak hukum namun tidak ada tindakan nyata.
Berdasarkan sumber yang berhasil ditemui Media ini dilapangan menyebutkan, “Rokok gudang garam yang diselundupkan ke Malaysia dan laut Cina selatan itu tidak memiliki pita cukai.
Karena rokok yang dikirim menggunakan belasan speedboat itu hanya rokok bagian atas saja, kalaupun ada pitanya, rokok bagian atas sementara selebihnya tidak memiliki pita cukai sama sekali”, ungkap sumber yang namanya enggan disebutkan dan sehari-hari bekerja bongkar muat rokok gudang garam dipenimbunan yang ada disungai baru itu.
Lanjutnya “Rokok gudang garam itu dikirim oleh pemiliknya dari Dumai menggunakan kapal pompong dengan ukuran besar sebelum di overskip dipinggiran sungai guna dipindahkan kegudang yang selanjutnya dipindah ke speedboat guna dikirim ke Malaysia dan perairan laut cina selatan dan armada speedboat nya sendiri jumlahnya belasan buah, satu speedboat memiliki tiga mesin 200 pk, bayangkan saja satu speedboat memakai mesin tiga buah jadi satu speedboat memiliki 600 pk, bahkan ada yang 750 pk hingga 1500 pk. Dan kecepatannya pun hanya hitungan menit perjalanan dari sungai baru ke Malaysia, lebih kurang 25 menitlah sampai ketujuan”, terangnya.
Tambah sumber itu lagi, dalam satu malam belasan speed boat itu ada yang dua kali melakukan pengiriman dan ada yang hanya satu kali pengiriman saja, satu speedboat itu bersisi 100 tim rokok gudang garam, dan biasanya mereka berangkat dari sungai baru ketika hari menjelang malam, jika waktu kurang bagus mereka berangkat tengah malam, tergantung situasi dan cuaca.Bukan sampai disitu saja, kondisi ini diperparah oleh banyaknya aparat terkait yang sering mondar mandir digudang disungai baru itu, tujuannya berbagai macam kebanyakan mereka minta uang minyak kepada pengurus gudang”, ujarnya.
Sementara itu, Akiong salah seorang yang disebut sebagai pengurus upeti bagi pihak –pihak terkait ketika di konfirmasi ini beberapa waktu lalu pihaknya mengakui, memang ada aktifitas pengiriman rokok gudang garam di sungai baru, “saya dipercaya mengurusnya,Nggak usah lah di ekspos biar kami bantu seperti yang lainnya”, ungkapnya singkat.
Secara terpisah kasi P2 Bea Cukai Selat Panjang Syahrudin ketika di mintai keteranganya mengatakan aktifitas ini sudah lama berlangsung dan bahkan kami sudaah berkoordinasikan ke dumai katanya mereka sudaah membayar pajak,”Saya sudah berkoordinaasi ke kantor Dumai mereka ini sudah membayar pajak di sana,”Killah Udin sapaan akrabnya.(tim/red)