RUPAT, PESISINEWS.com -JANJI pemerintah pusat untuk memberikan tunjangan khusus kepada para guru yang mengajar di daerah perbatasan, pedalaman, atau pun daerah tertinggal, ternyata hanya hisapan jempol belaka.Edi susanto adalah seorang guru yang mengajar di kecamatan Rupat ini hanya dibayar dengan upah yang besarannya sangat minim dan tidak layak. Kendati demikian, edi pun tetap semangat untuk mengajar karena memang berniat untuk memajukan pendidikan di wilayah perbatasan, adalah pria berusia 25 tahun yang hidup di wilayah perbatasan malaysia dan sumatra, . edi begitu dirinya akrab disapa, juga merupakan seorang kepala rumah tannga yang sudah 2,5 tahun ini mengabdikan dirinya sebagai guru honorer di SMA N 4 Kecamatan Rupat, kabupaten Bengkalis ,RiauMeskipun dirinya telah lama mengajar di wilayah perbatasan, namun nampaknya kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat. Buktinya, dirinya hanya menerima upah sebesar Rp 200ribu/ bulan. Itupun dibayar 3 bulan sekali“Sejak awal saya mengajar di sekolah tersebut dan sudah mengalami dua kali pergantian kepala sekolah, saya hanya dibayar sebesar Rp 200 ribu untuk per bulan, ,” ungkap Edi kepada pesisirnews.com ketika ditemui diruang mejelis guru SMA N4 Rupat selasa 28/10/2014Namun begitu,Ia hingga saat ini tidak pernah mengeluh kepada pimpinan sekolah tempat ia mengajar. Ia pun selalu menerima berapa pun besaran gaji yang dibayarkan kepada dirinya mengingat ia menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang guru berstatus guru honorer.“Saya terima saja berapa pun upah yang dibayarkan kepada saya. Lagipula saya hanya seorang guru honorer yang memang cukup rendah gajinya,” katanya.Dan ia bercerita, setiap hari harus menempuh jarak 3 kilometer dari tempat tinggalnya menuju sekolah dengan menggunakan sepeda motor dengan biaya satu liter minyak harus ia keluarkan Rp 8 ribu untuk pulang pergi. Sehingga, gajinya ludes hanya untuk biaya transportasi.“Saya tidak menyesal. Kalau bukan saya, siapa yang bisa mengajari anak-anak di daerah saya? Saya punya ilmu, lulusan S1, tapi jika ilmu saya tidak ditransferkan kepada anak-anak, mau diapakan? Maka itu, saya ikhlas. Niat saya memang untuk mengajarkan anak-anak di daerah saya,” paparnya.“Tapi yang dikeluhkan hingga saat ini, ternyata bukanlah menuntut kenaikan gaji, tetapi justru meminta kepada pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat untuk menambah bangunan lokal baru karena ada beberapa siswa kelas 1 dan kelas 2 masuk siang karena kekurangan lokal di sekolah tempatnya mengajar. Selama 2 tahun mengajar, sekolah itu tidak pernah memiliki perpustakaan. Ditempat terpisah kepala sekolah SMA N4 Kecamatan Rupat SUPARYAN spdi ditemui dirumah kediaman selasa 28/10/14 menyatakan ‘ ‘ saya sangat prihatin dengan guru saya selama 2 tahun ini mereka menerima gaji Rp 600.000 /3 bulan itu dari dana BOM (bantuan operasi mutu) sedangkan dari dana BOS tidak dianggarkan untuk mengaji guru digunakan untuk admistrasi kegiatan ngajar-mengajar dan pembelian perlengkapan sekolah ‘’ ungkapnyaLanjutnya ,saat ditanya wartawan berapa jumlah guru yang harus ditangung untuk menbayar gaji tersebut ia menjawab dari 20 guru yang ada disekolah saya hanya yang PNS dan yang lain honor digaji oleh sekolah Rp 200.000/bulan ‘’ saya berharap pemerintah daerah dan pusat bisa lebih fokus menperhatikan dunia pendidikan didaerah perbatasan yang sangat mengharapkan bantuan kesejahteraan guru dan sarana prasana sekolah yang mana jumlah siswa siswi saya berjumlah seratus lebih tapi bagaimana pun saya tetap berusaha agar sekolah yang saya pimpin ini mendapat perhatian pada pihak pemerintah’’ ungkapnya piyan pangilan nya yang merupakan kepala sekolah termuda di kecamatan Rupat yang menpunyai prestasi yang baik dalam memajukan pendidikan khusus nya dikecamatan Rupat (budi)