Harga Anjlok, Petani Karet Menjerit

- Senin, 31 Agustus 2015 09:40 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir082015/pesisirnews_Harga-Anjlok--Petani-Karet-Menjerit.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Ilustrasi
MERANTI, PESISIRNEWS.COM - Nasib ribuan petani karet di Kepulauan Meranti terpuruk. Hal ini disebabkan anjloknya harga karet di pasaran dunia.Jika awal hari raya Idul Fitri lalu harga perkilo karet (ojol) masih di kisaran harga Rp5.000-Rp6.000/Kg, sekarang hanya tinggal Rp3.000/kg.Harga tersebut menjadi yang terendah sejak 10 tahun terakhir. Petani di Kepulauan Meranti sempat mengecap masa terbaik ketika harga perkilo karet mencapai Rp20 ribu kendati hanya beberapa pekan saja."Mestinya paling rendah pun harga karet masih sebanding dengan harga 1 kg beras. Kalau sekarang, satu kilo ojol hanya bisa untuk membeli 2,5 ons beras saja," keluh Sutrisno warga Desa Anak Setatah, belum lama ini.Sebagian petani karet yang memiliki penghasilan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari bisa tetap menakik karet dengan menyimpan karet atau ojol di kolam-kolam penyimpanan. Saat harga karet kembali naik, mereka baru akan menjualnya."Kalau pateni karet punya penghasilan lain atau kerja lain selain menakik karet. Misalnya masih punya kebun kelapa atau lainnya. Kalau hanya manakik karet menjadi satu-satunya mata pencaharian keluarga, macam mana mau menyimpan ojol, mau makan apa," keluhnya.Kondisi paling miris bagi petani karet yang selama ini mengambil upah (membagi dua) di kebun karet milik orang lain. Dengan harga karet Rp3000/kg, para pengambil upah hanya kebagian Rp1500/Kg. Nilai tersebut sangat tidak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan dan hasil yang diperoleh dari pekerjaan tersebut."Tak semua petani karet di Kepulauan Meranti dan Desa Anak Setatah  ini menakik atau mengelola kebun karet mereka sendiri. Sebagian mereka mengambil upah di kebun milik orang lain. Bisa dibayangkan kalau mereka hanya mendapat Rp1500/Kg. Cukup untuk apa nilai segitu. Apakah lagi, harga-harga kebutuhan pokok terus melambung," ujar Sutrisno lagi.Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kepulauan Meranti, Ir Mamun Murod, mengakui anjloknya harga karet. Namun Mamun Murod mengingatkan, bahwa harga karet ditentukan oleh mekanisme pasar dan bukan pemerintah."Kalau permintaan karet tinggi dari pembeli di luar negeri tentu saja harga karet akan tinggi pula. Karena produksi karet banyak diekspor keluar," ujarnya.Menurutnya, harga karet yang anjlok saat ini dipengaruhi krisis ekonomi yang terjadi di Eropa dan juga Amerika. Karena terjadi kelesuan perdagangan dan industri di kawasan ini mengakibatkan industri banyak yang tiarap atau mengurangi produksinya.(Adi)

Berita Terkait

Ekbis

Bupati Herman Serahkan SHM Warga Transmigran, UPT Tiram Jaya Disiapkan Menjadi Dusun Mandiri

Ekbis

Dukung Program Prioritas Kapolri,Polri Bersama Masyarakat,Kapolres Inhil Serahkan Bantuan 3 (Tiga ) Mesin Katinting kepada Nelayan

Ekbis

Wakil Bupati Yuliantini Hadiri Pelepasan Jenazah H. Andi Rusli, Antarkan Hingga ke Pemakaman di Keritang

Ekbis

Operasi Gabungan Bareskrim Polri dan Polda Riau, 68 Orang Diamankan di Tempat Hiburan Malam Pekanbaru

Ekbis

Dua Perempuan Diamankan Polres Inhil, Diduga Edarkan Sabu 0,64 Gram di Pekan Arba

Ekbis

HUT ke-81 TNI di Inhil, Perkuat Sinergitas TNI-Polri dan Forkopimda