MERANTI, PESISIRNEWS.COM - Kabupaten Kepulauan Meranti, saat ini terus berpacu dalam menggesa pembangunan dunia usaha, salah satunya usaha perhotelan. Dimana saat ini telah terdapat 5 hotel seperti Grand Meranti Hotel, Dyva Hotel, Furama Hotel, Trio Hotel, dan Lily Hotel.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Meranti, Uyung, yang memiliki tanggung jawab terhadap eksistensi hotel-hotel di Meranti, merasa prihatin terkait pengunjung atau tamu hotel yang belakangan ini jumlahnya menurun drastis.
Saat ditanyakan tentang maraknya rumah Kost yang menjamur di kota Selatpanjang, Ketua PHRI menanggapi dengan miris.
Sesama pengusaha, uyung mengatakan memang itu hak mereka. Tetapi, menjamurnya rumah kost sangat mempengaruhi Okupansi (tingkat hunian hotel resmi). Oleh karena itu, Ia sangat berharap kepada Dinas terkait agar tidak sembarangan memberikan izin.
"Kepada pihak Pemda Meranti, kita berharap agar lebih jeli menganalisa kebutuhan pasar, agar tidak mematikan usaha yang lama" ucapnya.
Sebagai salah satu Hotel yang peduli terhadap generasi muda Meranti, Grand Meranti Hotel telah mengirim 2 (dua) orang putra daerah untuk mengikuti pelatihan bidang perhotelan. Kedua orang tersebut masing masing, Mustafa asal desa Gogok dan Murizal. Setelah mengikuti ujian kompetensi dan dinyatakan lulus, saat ini mereka telah memiliki kemampuan dibidang Perhotelan.
Berdasarkan pantauan, Kamis (2/7) kemarin, saat ini di Kota Selatpanjang sudah ada belasan titik lokasi rumah kost, yang fasilitasnya mampu menyaingi fasilitas yang ada di hotel.
Barisan rumah Kost terletak di Jalan Imam Bonjol, terdapat dua rumah kost mewah yang biasa disebut dengan rumah kost Wiliam. Selain itu, di Jalan Jempul terdapat dua rumah kost dengan sebutan rumah kost Ahwa, bahkan di Jalan Belanak juga terdapat satu rumah kost elite yang juga milik saudara Ahwa, serta rumah kost milik Kopi O. Dari informasi yang dirangkum, pada umumnya rumah kost tersebut dihuni oleh para karyawati Pujasera.
Uyung menambahkan, maraknya pembangunan rumah kost oleh pemilik modal yang sengaja membangun dengan fasilitas serba lengkap itu, telah berdampak buruk bagi dunia usaha Perhotelan di Kepulauan Meranti.
"Akankah Hotel resmi yang telah berkontribusi terhadap PAD Meranti ini dibiarkan mati suri, semoga dinas terkait serius menyikapi kondisi ini," tutupnya.(Adi)