Ini Negara-negara yang Diprediksi Gagal Bayar Utang, Bagaimana dengan Indonesia?

- Minggu, 24 Juli 2022 13:29 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/berita/dir072022/_9189_Ini-Negara-negara-yang-Diprediksi-Gagal-Bayar-Utang--Bagaimana-dengan-Indonesia-.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Ilustrasi: Beban utang negara. (Global Finance Magazine)

(Pesisirnews.com) - Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya karena ketidakmampuannya untuk membayar utang luar negerinya. Tetapi krisis ini tidak hanya terjadi di Sri Lanka. Puluhan negara lain berada di ambang jurang maut yang sama.

Melansir Reuters Minggu, bahaya seperti kenaikan harga komoditas, inflasi dan kekacauan di pasar dunia sudah mulai mengintai negara-negara tersebut.

Menurut laporan Reuters, Sri Lanka, Lebanon, Rusia, Belarusia, Suriname dan Zambia berada dalam kondisi ekonomi yang sangat buruk.Negara-negara ini telah menjadi mangkir utang.

Negara-negara ini harus menanggung beban utang sekitar 40 ribu miliar dolar. Dari jumlah ini, hanya Argentina yang harus membayar utang maksimum 15 ribu miliar dolar. Ekuador dan Mesir harus membayar utang sebesar 4000 hingga 4500 juta dolar.

Namun, para ahli mengatakan beberapa negara mungkin dapat menghindari default (ketidakmampuan membayar utang) jika pasar global tenang dan Dana Moneter Internasional (IMF) mendukung mereka. Tetapi risiko tetap ada di beberapa negara.

Reuters telah menyusun daftar 12 negara yang berisiko gagal bayar. Negara-negara tersebut adalah Argentina, Ukraina, Tunisia, Ghana, Mesir, Kenya, Ethiopia, El Salvador, Pakistan, Belarus, Ekuador, dan Nigeria.

[br]

Berikut 5 negara dari 12 negara yang berisiko gagal bayar utang:

1. Argentina

Jumlah cadangan di negara Amerika Selatan Argentina terus berkurang.Nilai mata uang juga terdepresiasi.Sejak 2020, ekonomi negara berada di jalur yang berlawanan. Pemerintah juga tidak memiliki cukup utang untuk melanjutkan operasi hingga 2024. Kekhawatiran telah muncul bahwa wakil presiden negara yang kuat, Cristina Fernandez de Kirchner, dapat menarik Argentina dari Dana Moneter Internasional.

2. Ukraina

Agresi Rusia telah membawa bencana besar bagi perekonomian Ukraina. Negara ini sekarang membutuhkan lebih dari $ 2 triliun dana untuk menghidupkan kembali ekonominya yang babak belur. Investor berpengaruh seperti Morgan Stanley dan Amundi Warne telah menyatakan keprihatinan atas perekonomian negara ini. Ukraina yang dilanda perang akan berada dalam masalah jika tidak mampu membayar cicilan pinjaman sebesar 1,2 miliar dolar pada September mendatang.

3. Tunisia

Tunisia terus mencoba untuk mendapatkan pinjaman dari Dana Moneter Internasional, jatuh ke dalam krisis ekonomi yang parah. Ketidakstabilan politik telah dikaitkan dengan krisis ekonomi.Presiden Qais Saeed berusaha mati-matian untuk memperketat kendalinya atas rezim. Di sisi lain, Kepala Bank Sentral, Marwan Abbasi, mengatakan kesepakatan dengan IMF menjadi hal yang esensial bagi negaranya.

4. Pakistan

Cadangan Pakistan turun menjadi $ 9,8 miliar. Akibat krisis likuiditas, negara kesulitan mengimpor BBM. Pemerintah baru yang berkuasa setelah jatuhnya Imran Khan juga tidak dapat menemukan cara yang tepat untuk mengatasi krisis tersebut.Islamabad mencapai kesepakatan penting dengan IMF minggu ini.

[br]

5. Mesir

Rasio utang terhadap PDB negara Afrika ini mendekati 95 persen. Menurut statistik organisasi dana FIM Partners, negara akan membutuhkan 10 miliar dolar tunai untuk memenuhi pengeluaran lima tahun ke depan.

Bagaimana dengan posisi utang Indonesia?

Meski utang Indonesia juga sangat besar, syukurnya posisi Indonesia masih aman dalam kemampuan membayar utangnya. Karena ketidakmampuan negara dalam membayar utang akan sangat berdampak pada perekonomian negara tersebut.

Kegagalan negara dalam membayar utang dapat mengakibatkan tak terkendalinya inflasi, meningkatnya pengangguran, hilangya kepercayaan investor, dan lain sebagainya.

Yang terparah menurut indiatimes.com, ketidakmampuan negara dalam membayar utangnya dapat menyebabkan terjadinya kekacauan politik di dalam negeri, runtuhnya kekuasaan, dan timbulnya gejolak sosial yang sulit dikendalikan. (PNC)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Ekbis

Bupati Inhil Dorong Pengembangan Karier Berbasis Kompetensi

Ekbis

Peringati Hari Veteran, Bupati Inhil Ajak Generasi Muda Teladani Nilai Perjuangan

Ekbis

Untuk Kenyamanan Jemaah, PPIH Siapkan Bus Antarkota dengan Spek Khusus*

Ekbis

Terbesar di Sumatera, Riau Bhayangkara Run 2025 Bakal Gelar Berbagai Even

Ekbis

Nasi Kuning Hingga Sambal Tumis, Chef Azhari: Menu Nusantara Jadi Sajian Utama Jamaah Haji 2025

Ekbis

Tiket Pertandingan Indonesia vs Bahrain Mulai Di Jual