SURABAYA-Video pendek Ketua GP Ansor Surabaya, H Muhammad Farid Afif yang minta polisi 'tembak di tempat' pembawa bendera HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) disorot sejumlah nahdliyin. Mereka menilai pernyataan itu kebablasan dan justru bisa memancing persoalan baru.
"Tolong Ansor diingatkan Cak! Jangan seperti itu! Kalau ada pelanggaran, biarkan masuk ranah hukum. Jangan sampai minta polisi tembak di tempat, ini berbahaya," demikian tulis salah seorang kiai asal Pandaan dalam grup WA, Selasa (30/10/2018).
Sementara, dari komunitas Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah (PPKN), juga mendesak agar Ansor segera melakukan konsolidasi. "Cak Anam (Drs H Choirul Anam ? Dewan Kurator Museum NU red.), ini bagaimana? Ansor kok terus pekithak-pekithik. Kok memaksakan diri ikut ranah polisi. Ini berbahaya, jangan-jangan ada dalang di balik itu," tegasnya.
Sementara, Gus Afif sendiri, kepada duta.comembenarkan video yang beredar. Cuma ada versi yang tidak lengkap. Karena selain minta polisi tembak di tempat, dia juga minta agar Ansor dan Banser tidak ikut-ikutan main bakar bendera.
Berikut isi video yang berdurasi 01:37 menit itu:
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh: Saya Haji Muhammad Farid Afif, selaku Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Surabaya. Kepada seluruh masyarakat Kota Surabaya, agar tidak turut aksi, apalagi melakukan bakar-bakar bendera. Ansor dan Banser dilarang ikut, atas kegiatan tersebut.
Kedua, saya menghimbau kepada kepolisian Kota Surabaya untuk melakukan tembak di tempat ketika ada orang, siapa pun orangnya, yang membawa bendera HTI atau atribut-atribut HTI, karena Ormas tersebut sudah dilarang oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Yang terakhir, tolong kepada seluruh pimpinan gerakan pemuda Ansor Surabaya dan Banser Kota Surabaya dan seluruh anggota Ansor dan Banser, baik yang cinta Ansor dan Banser untuk tetap tenang, dan tidak terprovokasi atas kegiatan-kegiatan tersebut.
Sumber:duta.co