Sejarah

Asal Muasal Nama Provinsi Riau

- Jumat, 04 Agustus 2017 23:26 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/dir082017/pesisirnews_Asal-Muasal-Nama-Provinsi-Riau.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Internet

Pesisirnews.com - Provinsi Riau, yang terdiri dari dua belas Kabupaten kota yang terletak di Pulau Sumatera memiliki sejarah yang unik dalam kajian asal muasal dalam pemberian namanya. 

Riau, orang sering menghubungkan provinsi ini dengan minyaknya yang berlimpah. Namun, bagaimana dengan asal usul Riau sehingga dapat menjadi sebuah provinsi seperti Riau yang dikenal saat ini? Tentu tidak lepas dari sejarah yang membangunnya. Membicarakan sebuah kajian tentang asal-usul sebuah nama daerah tentu cukup menarik untuk disimak, salah satunya kajian tentang asal-usul nama Riau.

Dilansir dari situs kemdikbud.go.id hasil kajian Hasan Junus, seorang peneliti naskah Melayu di Riau mencatat paling kurang ada 3 kemungkinan asal nama Riau. Pertama toponomi Riau berasal dari penamaan orang portugis dengan kata Rio yang berarti sungai.

Secara etimologis kata "Riau" berasal dari kata "Rio" (Bahasa Portugis) yang berarti "sungai". Misalnya Rio de Janeiro artinya Sungai Januari. Di pulau Bintan ada sebuah sungai yang bernama Rio, yaitu sungai Rio. Dari kata Rio ini berubah menjadi Riau. Orang Belanda menulis kata Riau ini dengan "Riouw" dan sekarang dikenal tulisan Riouw dengan perkataan Riau saja.

Kedua mungkin berasal dari tokoh sinbad Al-bahar dalam kitab Alfu Laila Wa laila (seribu satu malam) yang menyebut Riahi, yang berarti air atau laut. Hal ini pernah di kemukakan oleh Oemar Amin Husin. Seorang tokoh masyarakat dan pengarang asal Riau dalam salah satu pidatonya mengenai terbentuknya propinsi Riau.

Ketiga, berasal dari penuturan masyarakat setempat. Lafalz atau ucapan sehari-hari masyarakat sekitar, seperti Ucapan sehari-hari dalam masyarakat Siak dikenal kata "meriau" yang artinya musim ikan bermain-main, di Kuantan Sengingi "meriau" berarti suatu cara mengumpulkan ikan pada suatu tempat untuk mudah ditangkap dalam jumlah besar. Dari meriau ini berubah menjadi kata Riau.

Disamping itu dalam masyarakat Kepulauan Riau, dikenal pula kata "Rioh".  Di angkat dari kata Rioh atau Riuh, yang berarti ramai, Hiruk pikuk orang bekerja. Kata Rioh yang dimaksud disini mungkin adalah suara yang ramai di pusat kerajaan Melayu Riau.

Pusat kerajaan itu terletak di sebelah hulu sungai Carang yang ramai suaranya karena kesibukan perdagangan yang keluar masuk pusat kota. Pusat perdagangan itu dikenal dengan nama "Bandar Rioh" yang didirikan oleh Sultan Ibrahim Syah (1671-1682) dalam Kemaharajaan Melayu. Bila dihubungkan pengertian Rio yang artinya sungai dengan kata Rioh yang artinya suara yang ramai, terdapat suatu pengertian yang hampir sama. Sungai Riau ini terletak pada arus lalu lintas perdagangan internasional di Selat Malaka.

Nama Riau yang berasal dari penuturan orang melayu setempat, kabarnya ada hubungannya dengan peristiwa didirikannnya negeri baru di sungai Carang, untuk dijadikannya pusat kerajaan. Hulu sungai inilah yang kemudian bernama Ulu Riau. Adapun peristiwa itu kira-kira mempunyai teks sebagai berikut:

Tatkala perahu-perahu dagang yang semula pergi ke makam Tuhid (ibu kota Kerajaan Johor) di perintahkan membawa barang dagangannya ke sungai Carang di pulau Bintan, di muara sungai itu mereka kehilangan arah. Bila ditanyakan kepada awak-awak perahu yang hilir, "dimana tempat orang-orang raja mendirikan negeri ?" mendapat jawaban "Di sana di tempat yang rioh", Sambil mengisaratkan ke hulu sungai menjelang sampai ketempat yang di maksud jika di tanya ke mana maksud mereka, selalu mereka jawab "mau ke rioh"

Berdasarkan beberapa keterangan di atas maka nama Riau besar kemungkinan memang berasal dari penamaan rakyat setempat, yaitu orang melayu yang hidup di daerah Bintan. Nama itu besar kemungkinan telah mulai terkenal semenjak Raja Kecik memindahkan pusat kerajaan melayu dari Johor ke Ulu Riau pada tahun 1719. Setelah itu, nama ini di pakai sebagai salah satu negeri dari 4 negeri utama yang membentuk Kerajaan Riau, Lingga, Johor dan Pahang. Kemudian dengan perjanjian London 1824 antara Belanda dengan Inggris, kerajaan ini terbagi menjadi dua.

Bagian Johor, Pahang berada di bawah pengaruh Inggris, sedangkan belahan bagian Riau-Lingga berada dibawah pengaruh Belanda. Pada zaman penjajahan Belanda 1905-1942, nama Riau di pakai untuk sebuah karesidenan yang daerahnya meliputi kepulauan Riau serta Pesisir timur sumatera bagian tengah. Demikian juga pada saat zaman Jepang, nama Riau juga masih di pertahankan. Setelah Provinsi Riau terbentuk pada tahun 1958, nama Riau masih dipergunakan sampai sekarang ini.(RD). 

Berita Terkait

Artikel

Bhabinkamtibmas Desa Bakau Aceh Koordinasi Pendataan Lahan Jagung Dukung Swasembada Pangan

Artikel

Polres Inhil Salurkan Paket Sembako dalam Rangka Hari Bhayangkara ke-80

Artikel

PMI Inhil Gelar Rapat Kerja 2026, Perkuat Sinergi Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan

Artikel

HUT Bhayangkara ke-80, Polsek KSKP Tembilahan Ajak Warga Jaga Kamtibmas Lewat Turnamen Domino

Artikel

Kapolsek Kemuning Cup I Tahun 2026 Resmi Dibuka, Meriahkan HUT Bhayangkara ke-80

Artikel

Finalis Bujang Dara Indragiri Hilir (Inhil) Tahun 2026, menyambangi Dewan Kerajinan Nasional Daerah