Ini Sosok yang Berjasa Membujuk Soekarno agar Mau Merekam Ulang Pembacaan Proklamasi

- Selasa, 16 Agustus 2022 09:44 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/berita/dir082022/_878_Ini-Sosok-yang-Berjasa-Membujuk-Soekarno-agar-Mau-Merekam-Ulang-Pembacaan-Proklamasi-.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Yusuf Ronodipuro, pahlawan Indonesia yang berjasa membujuk  Soekarno merekam ulang pembacaan teks proklamasi. (Foto via KBRN) 

(Pesisirnews.com) - Mungkin masih banyak diantara kita yang tidak mengetahui kalau rekaman teks proklamasi yang biasa didengar ternyata adalah hasil rekaman ulang beberapa tahun setelah teks proklamasi pertama kali dibacakan pada 17 Agustus 1945.

Rekaman suara pembacaan teks proklamasi yang biasa diperdengarkan menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI itu ternyata baru dilakukan pada tahun 1951.

Lembaga penyiaran yang merekam ulang pembacaan teks proklamsi itu adalah Radio Republik Indonesia (RRI) yang berada di Jalan Medan Merdeka Barat 4-5, Jakarta.

Adapun Yusuf Ronodipuro, adalah sosok pemilik ide untuk merekam suara pembacaan teks proklamasi. Dia pula yang mencetuskan jargon 'Sekali di Udara Tetap di Udara'.

Yusuf adalah seorang penyiar kelahiran Salatiga, 30 September 1919. Dia menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke dunia internasional melalui radio militer Jepang (Hoso Kyoku).

Aksi yang dilakukannya bersama Syahruddin bukannya tanpa resiko. Usai menyiarkan berita, polisi militer Dai Nippon (Kempetai) mengetahui aksi mereka.

[br]

Akibatnya, mereka diinterogasi dan mengalami penyiksaan habis-habisan, dan hampir dihukum pancung. Seorang perwira Jepang datang mengenali mereka, lalu membebaskan dari tawanan Kempetai.

Yusuf adalah salah seorang pendiri RRI bersama dr. Abdurrahman Saleh pada 11 September 1945. Sebelumnya, bersama teman-temannya dia terlibat dalam perebutan stasiun radio di seluruh Jawa dari tangan Jepang.

Akhir tahun 1950, RRI baru saja membeli peralatan baru. Yusuf mendadak mempunyai ide untuk merekam suara Bung Karno membacakan proklamasi.

Sempat terjadi perdebatan sengit, namun Bung Karno akhirnya bersedia merekam suaranya ketika membacakan naskah proklamasi. Ini terjadi hampir 6 tahun setelah proklamasi yang asli dibacakan.

Hasilnya, RRI memiliki satu-satunya rekaman deklarasi kemerdekaan Indonesia. Tentunya rekaman itu kondisinya relatif sangat baik.

[br]

Muhammad Jusuf Ronodipuro wafat pada 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun. Dia dimakamkan di TMP Kalibata. Sebelumnya, pada 2002 dia menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari pemerintah RI atas jasa-jasanya.

Master rekaman dalam piringan hitam kemudian dikirim ke Lokananta di Surakarta, untuk digandakan dan disebar ke seluruh Indonesia. Dokumen penting tersebut sampai sekarang masih tersimpan di Lokananta.

Itulah mengapa jika didengarkan saksama, suara Soekarno saat membacakan teks proklamasi relatif bersih tanpa ada suara latar apapun. Padahal, situasi faktual saat Soekarno memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, tentu sangat ramai.

Pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta hanya diabadikan melalui foto. Pada saat itu, tidak ada rekaman suara atau video, dikarenakan Indonesia belum memiliki teknologi canggih. (PNC/KBRN)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Artikel

Optimalkan Penyebaran Informasi Daerah, Diskominfo Pers Inhil MoU dengan RRI Pekanbaru

Artikel

Edy Natar dan M Harris Siap Bertarung Untuk Untuk Pilgubri

Artikel

Serius Perhatikan Inhil, Anggota DPR RI Ini Anggarkan Pembangunan Jalan Menuju Wisata Religi

Artikel

Hari RRI, Dewi Juliani Beri Apresiasi Untuk Penyiar dan Kru

Artikel

Pakar Politik Nilai Gibran Bukan Kader Sembarangan di PDI-P

Artikel

Ulang Tahun Ke-76 Megawati Soekarnoputri Dirayakan secara Sederhana