Fenomena Lone Wolf dan 7 Ciri-cirinya Serta Gangguan Kejiwaan pada Pelaku Terorisme

- Jumat, 02 April 2021 15:30 WIB

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: getimagesize(https://cdn.pesisirnews.com/photo/berita/dir042021/_3356_Fenomena-Lone-Wolf-dan-7-Ciri-cirinya-Serta-Gangguan-Kejiwaan-pada-Pelaku-Terorisme.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/pesisirnews/public_html/amp/detail.php on line 170
Ilustrasi: Lone Wolf Terrorism (teroris serigala penyendiri). (Designcrowd)

Pesisirnews.com - Penyerangan Mabes Polri yang dilakukan oleh seorang wanita muda bernama Zakiah Aini (25) pada Rabu (31/3/2021) sore, hingga kini masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Beberapa pengamat pun menilai tindakan ZA itu sudah di luar akal sehat.

Salah satu pengamat yang mengulas kenekatan Zakiah Aini adalah seorang konsultan politik dan tokoh media sosial terkemuka, Denny JA.

Dalam laman Facebook pribadinya, Denny menulis aksi yang dilakukan Zakiah di Mabes Polri merupakan fenomena lone wolf.

Menilik tulisan Denny JA, aksi teror Zakiah di Mabes Polri merupakan suatu perbuatan yang sudah sangat nekat karena sangat besar kemungkinan dia terbunuh dalam aksinya itu, atau bisa dikatakan aksinya itu sebagai sebuah aksi bunuh diri.

Lantas apa yang melatarbelakangi Zakiah Aini sehingga tergerak berbuat sesuatu yang berbahaya bagi dirinya namun dia pandang benar menurut keyakinannya?

Menurut Denny, generasi lama terorisme selama ini digerakkan oleh organisasi besar terpusat.

Dalam garis komando, organisasi seperti Al Qaedah, ISIS, atau di Indonesia: Jemaah Islamiyah, Jemaah Ansharut Daulah (JAD), menggerakkan jaringan, melakukan aksi serangan masif, hingga bom bunuh diri.

Namun organisasi besar itu kini dihancurkan. Mereka diawasi super ketat. Banyak pimpinan utama mati dibunuh, atau terbunuh, juga dipenjara.

Kini datanglah generasi baru yang acap disebut Lone Wolf Terrorism. Coraknya berbeda. Cara beroperasinya juga beda.

Lone Wolf Terrorism (teroris serigala penyendiri) secara umum didefinisikan seseorang yang menyiapkan dan melakukan tindak kekerasan sendirian, di luar struktur komando apapun dan tanpa bantuan materil dari kelompok manapun.

Founder Lembaga Survei Indonesia (LSI) ini juga megutip hasil penelitian seorang doktor sosiologi, peneliti dari Victoria University, di Melborne, Australia, Ramon Spaiij. Ia meneliti corak Lone Wolf Terrorism di 15 negara: The Enigma of Lone Wolf Terrorism: An Assessment.

[br]

Dari riset Ramon dan lainnya, dapat kita kategorikan tujuh ciri generasi baru Lone Wolf Terrorism, yakni:

Pertama, mereka bergerak dalam kelompok yang sangat kecil. Kadang mereka lakukan aksi terorisme secara individual, atau hanya berdua (kakak dan adik, suami dan istri), atau hanya beberapa orang saja.

Mereka tidak lagi bergerak dalam kelompok besar dalam satu serangan terorisme.

Kedua, mereka mungkin alumni, pecahan dari organisasi besar terorisme semacam Al Qaedah atau Jaringan Ansharut Daulah. Atau mereka mungkin juga anggota organisasi besar itu.

Tapi mereka bukanlah peserta aktif organisasi itu. Umumnya mereka bergerak lebih banyak karena inisiatif sendiri.

Ketiga, banyak pula kasus, mereka hanyalah para individu yang terinspirasi. Mereka sama sekali tak berhubungan secara komando dengan organisasi besar terorisme.

Mereka merasa ada panggilan jiwa melakukan tindakan terorisme serupa dengan yang dilakukan organisasi besar itu.

Keempat, umumnya mereka banyak mendapatkan pengetahuan dan inspirasi dari jaringan online. Teroris masa kini juga memanfaatkan jaringan online sebagai wadah ideologisasi.

Dunia online dunia untuk semua. Kebaikan ataupun kejahatan dapat mengembangkan sayapnya melalui online.

Kelima, setelah diteliti, banyak dari Lone Wolf Terorist ini yang mengalami sakit jiwa. Problem pribadi itu membuatnya mudah tersentuh oleh fantasi yang dibawa oleh ideologi ekstrem.

Agama yang dipahami teroris ini umumnya sudah bercampur dengan kemarahan pribadi, frustasi, ketidak berdayaan, kekecewaan, juga dengan fantasi yang liar.

[br]

Keenam, khusus jika Lone Wolf ini dari komunitas Muslim, mereka mengembangkan permusuhan tingkat tinggi, tak hanya kepada pemerintah. Tapi juga permusuhan ke kalangan non- Muslim.

Kesulitan hidup pribadi atau komunitas, mereka persepsikan sebagai buah dari ketidak adilan. Ini akibat tak dijalankannya perintah Tuhan.

Maka sekecil apapun serangan atas properti atau individu yang dipersepsikan sebagai “musuh” itu bagian dari perjuangan. Walau resikonya adalah kematiannya sendiri.

Ketujuh, gerakan mereka dilakukan umumnya mendekati hari besar agama. Misalnya menjelang bulan puasa, lebaran, Natal atau tahun baru.

Mereka mengembangkan imajinasi, pada momen itu, pahala atau reward dari Tuhan kepada mereka akan berlipat.

Tak heran jika momen terorisme gaya lone wolf ini lebih banyak terjadi mendekati atau pada momen hari besar agama.

Terorisme dan penyakit mental

Sebuah studi dari Combating Terrorism Center Amerika Serikat tahun 2017 menganalisis para pelaku terorisme yang diduga menderita gangguan kejiwaan atau penyakit mental.

Penyakit mental adalah istilah umum yang mengacu pada sekelompok gangguan termasuk kecemasan, depresi, gangguan bipolar, dan skizofrenia. Ini secara signifikan dapat mempengaruhi bagaimana seseorang merasa, berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain.

Bukti juga menunjukkan bahwa beberapa peran teroris lebih mungkin mengalami gangguan mental tertentu.

Menggunakan berbagai teknik termasuk wawancara klinis, tes kepribadian, tes Apersepsi Tematik, dan tes Menggambar Rumah-Pohon-Orang, para pelaku bom bunuh diri memperoleh lebih banyak diagnosis Gangguan Kepribadian Ketergantungan (60% vs. 17%), gejala depresi (53% vs. 8%) dan kecenderungan bunuh diri yang lebih mudah ditampilkan (40% vs. 0%).

Di sisi lain, kelompok kontrol lebih cenderung terdiri dari anggota dengan kecenderungan psikopat (25% vs 0%) dan kecenderungan impulsif-tidak stabil (67% vs 27%).

Penyelenggara pelaku bom bunuh diri memiliki skor lebih tinggi dalam kekuatan ego, impulsif, dan ketidakstabilan emosional daripada calon pelaku bom bunuh diri.

Apakah penyakit mental berkontribusi pada perilaku kekerasan atau tidak, kemungkinan besar akan berbeda dari kasus ke kasus tergantung pada diagnosis individu, pengalaman sebelumnya, koeksistensi pemicu stres dan kerentanan lain, dan kurangnya faktor pelindung.***

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Artikel

Polda Riau Siapkan Pusat Studi Kepolisian dan Lingkungan, Perkuat Green Policing Berbasis Riset

Artikel

Polsek Enok Kembali Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Dua Tersangka Diamankan

Artikel

Polsek Kateman Ungkap Kasus Penyalahgunaan Narkotika Satu Pelaku Diamankan

Artikel

Pengungkapan Kasus Pengeroyokan,2 Pemuda Diringkus Polisi

Artikel

Polres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Seorang Pengedar Diamankan di Tembilahan

Artikel

Polres Inhil Ungkap Kasus Pencurian dengan Pemberatan, Dua Pelaku Diamankan