MESIR, Pesisirnews.com - Para arkeolog Mesir mengumumkan bahwa mereka telah menemukan 59 peti mati kayu yang diawetkan dan tertutup dengan baik, yang terkubur lebih dari 2.500 tahun yang lalu.
Peti mati kuno tersebut dipamerkan di situs arkeologi Saqqara, 30 kilometer selatan Kairo, Mesir pada Sabtu (3/9/2020).
Penemuan dramatis itu digali di selatan Kairo di kuburan Saqqara yang luas, pekuburan ibu kota Mesir kuno, Memphis, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO.
Saat dipamerkan, tim membuka salah satu sarkofagus yang dihias dengan hiasan untuk diperlihatkan kepada media dan menjelaskan sisa-sisa mumi yang dibungkus dengan kain penguburan dengan tulisan hieroglif dalam warna-warna cerah.
"Kami sangat senang dengan penemuan ini," kata Mostafa Waziri, sekretaris jenderal Dewan Purbakala Tertinggi, Mesir.
Sejak penemuan 13 peti mati pertama diumumkan hampir tiga minggu lalu, lebih banyak lagi yang telah ditemukan di lubang di kedalaman hingga 12 meter.
[br]
Menteri pariwisata dan barang antik, Khaled al-Anani, mengatakan di situs itu, dekat piramida Djoser yang berusia 4.700 tahun, sejumlah peti mati tambahan yang tidak diketahui mungkin masih terkubur disana.
“Jadi hari ini bukan akhir dari penemuan, saya anggap itu awal dari penemuan besar,†ujarnya.
Peti mati, yang disegel lebih dari 2.500 tahun yang lalu, berasal dari Periode Akhir Mesir kuno, dari sekitar abad keenam atau ketujuh SM, tambah menteri itu.
Penggalian di Saqqara dalam beberapa tahun terakhir telah menemukan banyak artefak serta mumi ular, burung, kumbang scarab, dan hewan lainnya.
Penemuan peti mati tersebut adalah pengumuman besar pertama sejak wabah Covid-19 di Mesir, yang menyebabkan penutupan museum dan situs arkeologi selama sekitar tiga bulan mulai akhir Maret.
Anani mengatakan semua peti mati akan dibawa ke Museum Besar Mesir (GEM) yang akan segera dibuka di dataran tinggi Giza.
Mesir berharap kesibukan penemuan arkeologi dalam beberapa tahun terakhir dan GEM akan meningkatkan sektor pariwisata vitalnya yang telah mengalami banyak guncangan sejak pemberontakan Musim Semi Arab 2011, yang kemudian diperparah dengan adanya pandemi Covid-19.
Sumber: AFP