Pesisirnews.com - Banyak tercatat dalam sejarah Indonesia tentang pertempuran-pertempuran hebat dari para pejuang bangsa melawan tentara penjajah.
Berbekal senjata yang jauh lebih sederhana, para pejuang mampu bertempur secara sengit, bahkan ada yang dapat memenangkan pertempuran.
Diantara perang-perang patriotik tersebut seperti Perang Aceh (1873-1904), Perang Jawa (1741-1743), Pertempuran Batavia (1628-1629), Serangan 10 November 1945 (Surabaya,) Serangan Umum 1 Maret 1949 (Yogyakarta), dan masih banyak lagi pertempuran hebat lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Sedangkan dalam sejarah perang di zaman modern, utamanya pada Perang Dunia Ke-2 (PD II), terdapat satu pertempuran yang tercatat sebagai perang jarak dekat paling brutal dalam sejarah perang di abad modern.
[br]
Perang itu dikenal dengan nama Pertempuran Stalingrad, antara pasukan Uni Soviet (kini Rusia-red) melawan tentara Nazi Jerman.
Pertempuran ini dicirikan oleh beberapa sejarawan sebagai pertempuran jarak dekat paling brutal karena bersamaan dengan sebagian penduduk sipil yang terperangkap di tengah pertempuran kota yang amat dahsyat.
Disarikan dari situs sejarah perang warhistoryonline.com, pertempuran ini dimulai pada Agustus 1942 dan berakhir pada Februari 1943 ketika pasukan Jerman yang terakhir menyerah.
Bagi Jerman, Hitler ingin merebut kota itu karena memakai nama Joseph Stalin, sedangkan untuk Soviet, kehormatan Tentara Merah dipertaruhkan.
Selain itu, mencegah Stalingrad jatuh ke tangan musuh akan memberikan dorongan moral yang sangat dibutuhkan untuk seluruh Uni Soviet.
Stalingrad saat itu mengendalikan pintu masuk ke wilayah kaya minyak di sekitar Laut Kaspia dan Sungai Volga, di mana Soviet menerima pinjaman persenjataan dari Sekutu. Namun, kota itu lebih menjadi sasaran simbolis bagi kedua belah pihak.
[br]
Pada fase pertama pertempuran, Soviet didorong ke beberapa posisi sempit di sepanjang tepi sungai barat Volga, di mana akhirnya mereka menerima bala bantuan dan dapat melakukan serangan balik.
Serangan balik ini sangat merugikan dalam hal korban, tetapi kegigihan dan tekad Tentara Merah memungkinkan mereka untuk merebut kembali kota, gedung demi gedung, dan distrik demi distrik.
Pengeboman Kota Luftwaffe yang begitu masif membuat kota itu menjadi puing-puing dan tidak ada bangunan yang tidak rusak atau hancur berkeping-keping.
Serangan balik pasukan Soviet memberi jalan pada Operasi Uranus - upaya terakhir Soviet untuk menguasai kota dengan mengepung Tentara ke-6 Jerman.
[br]
Terputus dari bala bantuan dan persediaan, Angkatan Darat ke-6 Jerman terpaksa menyerah meski pun Hitler menuntut untuk bertempur sampai prajurit terakhir.
Pertempuran Stalingrad berlangsung sampai orang terakhir (tentara Jerman-red) menyerah. Pasukan Jerman yang terakhir menyerah pada tanggal 2 Februari 1943, menandai berakhirnya Pertempuran Stalingrad. Jerman telah kalah, dan jalan menuju Reich terbuka.
Pertempuran Stalingrad menyisakan pemandangan kota yang begitu suram. Mayat-mayat manusia bergelimpangan dimana-mana, bangkai tank dan peralatan tempur lain yang telah hancur memberikan gambaran betapa mengerikan pertempuran yang dihadapi para prajurit kedua belah pihak, serta masyarakat sipil yang terjebak selama pertempuran itu.
Karena begitu brutalnya Pertempuran Stalingrad, sejarawan menilai pertempuran itu sebagai satu-satunya konfrontasi perang terbesar di abad modern yang melibatkan hampir 2,2 juta personel militer, dengan sekitar 1,8 - 2 juta tewas, termasuk orang-orang yang terluka, atau ditangkap.
Non Reportase